Cita-cita Terbunuh, Masih Bisa Bermimpi

Seorang Bocah lugu, imut, putih dan berambut hitam usianya baru menginjak 5 tahun. Bocah itu sedang bermain bola plastik pemberian ayahnya. Di saat bocah lainnya sedang sibuk dengan dunia virtualnya masing-masing. Bocah ini justru membebaskan imajinasinya dengan bermain di taman.

Si bocah terlihat begitu senang bermain bola di taman. “Kejar ! Tendang ! Tendang !” Teriak seorang ayah yang sedang mengasuh si bocah. Si bocah menuruti perintah sang ayah. Kaki mungilnya mengayun dengan penuh tenaga. Bola pun melaju deras. Dengan penuh semangat si bocah berlari mengejar bolanya lagi, lagi dan lagi.

Selayaknya seorang bocah, dunia imajinasinya begitu bebas. Bocah bebas berimajinasi menjadi siapapun, termasuk menjadi Tsubasa. Tsubasa adalah tokoh sepakbola fiktif dari Jepang yang menginspirasi banyak anak-anak di dunia. Gattuso dan Torres adalah dua pesepakbola profesional kelas dunia sungguhan yang mengaku terinspirasi oleh Tsubasa ketika masih anak-anak.

Sore itu si bocah menendang bola dengan gaya aneh. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengangkat kaki kanannya ke belakang sampai setinggi kepalanya. Si bocah mencoba mempraktikan tendangan elang (tendangan jarak jauh) yang merupakan tendangan andalan Tsubasa saat membobol gawang.

Berkat tendangan elang si bocah, bola pun melambung tinggi ke langit namun gagal menukik tajam seperti tendangan Tsubasa dalam kartun. Bola malah berbelok tak tentu arah karena terbawa angin. Tidak terlihat seperti tendangan elang Tsubasa, walau sudah coba meniru posisi menendangnya yang lumayan rumit dan bikin pegal itu. Tapi dasar bocah, seakan tak peduli dia terus mencoba sampai tua. Si bocah terus bersenang-senang menjadi Tsubasa sepanjang sore itu di taman kota.

Si bocah beranjak remaja. Imajinasinya tentang tendangan elang Tsubasa mulai memudar. Lebih realistis si bocah ingin menjadi seperti Tsubasa dalam mewujudkan mimpinya menjadi pesepakbola hebat. Bocah itu berlatih cara menendang bola yang benar kepada ayahnya, guru olahraganya, pelatih sepakbolanya bahkan kepada pemain sepakbola idolanya yaitu Ricardo Kaka. Kaka adalah seorang Brazil yang pernah memenangkan Ballon D’or. Dia belajar pada Kaka melalui Video. Jadilah si bocah bermain sepakbola gaya Kaka.

Sekarang si bocah tidak lagi bermain bola dengan bola plastik. Karena bola plastik sudah terlalu ringan baginya. Sekarang si bocah sudah miliki kaki yang kokoh, cukup kuat untuk menendang bola standar. Bersama teman-temannya si bocah senang bermain sepakbola di lapangan dekat rumah. Ayahnya bangga karena si bocah sudah bisa menggiring bola, menendang bola dan cetak gol. Si Ayah akan menari heboh seperti Roger Milla jika si bocah cetak gol.

Semakin jadi penggila sepakbola. Seperti penggila sepakbola pada umumnya, si bocah pun punya dua klub sepakbola idola. Yang pertama karena pengararuh lingkungan maka dia idolakan klub dari kota kelahirannya.  Ke dua karena klub lokal idolanya tak pernah mendunia maka dia idolakan klub luar negeri kelas dunia sebagai idolanya. Si bocah bercita-cita suatu saat akan menjadi pemain bola profesional dan akan membela ke dua klub idolanya.

Masa remaja si bocah hampir habis. Kesempatan untuk jadi pesepakbola profesional tak kunjung datang. Mungkin ambisi tak dianugerahi bakat, atau ambisi tak dibarengi sebuah keberuntungan. Hidup terus berlanjut, lama menua si bocah kubur mimpi beserta cita-citanya. Lalu si bocah mencondongkan arah hidupnya ke dunia teknik. Tidak menjauh dari sepakbola si bocah masih bisa bermain bola dengan riang, walaupun tak ada lagi seperti Tsubasa membawa negaranya ke kejuaraan Piala Dunia.

Lebih berharap seperti Manuel Pellegrini seorang menejer sepak bola asal chili. Seorang insinyur teknik sipil yang sukses menjadi pelatih sepakbola. Si bocah berpikir dia sudah habis dan pensiun dini dari mimpi sepakbola profesional yang tidak pernah diraihnya. Namun kabar baiknya si bocah tak cukup tua untuk menjadi seorang manajer sebuah klub sepakbola.

Mulai cari peluang dengan memasuki dunia virtual. Si bocah berfantasi menjadi manajer sebuah klub dalam dunia virtual berjudul Football Manager. Football Manager adalah sebuah game simulasi yang dapat memenuhi imajinasi seseorang menjadi seorang manajer klub sepakbola. Dengan game ini sedikit banyak si bocah dapat belajar mengenai taktikal dan segala rupanya tentang serunya menjadi manajer sebuah klub sepakbola.

Mau tidak mau imajinasi si bocah akhirnya tertangkap juga di dunia virtual. Imajinasinya sudah terkontaminasi dan tidak bebas lagi. Dunia nyata pun sudah begitu fana, apalagi dunia maya dan virtual, mungkin itu bisa dibilang dunia fana kuadrat. Namun apalagi yang harus dilakukan si bocah. Hanya itu cara dia berlatih mengasah kemampuannya sebagai manajer klub sepakbola ditengah kesibukanya berakting menjadi orang teknik.

Andre Villas Boas pun, konon gemar bermain Football Manager sebelum dirinya sukses secara nyata sebagai manajer FC Porto, dan setelah itu pindah ke Chelsea namun gagal bersinar. Dari cerita tersebut si bocah menumbuhkan asa nya untuk dapat memanajeri sebuah klub sepakbola kelak.

Namun dengan cara begitu. tidak ada jaminan si bocah akan berhasil meraih cita-citanya. Semua tidak akan mudah, mungkin kesempatan pun tak akan kunjung datang sampai si bocah sadar bahwa dirinya hanya membuang masa mudanya. Akibat dari aktingnya sebagai seorang teknik, dia tidak pernah meraih hasil maksimal pada fokus yang seharusnya sudah menjadi passion-nya. Dengan terus berpura-pura hasilnya cenderung semakin buruk sebagai orang teknik.

Namun mimpinya dalam sepakbola masih belum padam. Menjadi manajer sampai usianya belum terlalu tua dan tentu masih ada asa yang bisa diraih. Kalaupun si bocah harus benar-benar terbangun dari mimpinya. Si bocah masih dapat memenuhi hasratnya dalam sepakbola dengan sekedar menjadi penikmatnya.

Sepakbola yang sudah membaur dengan hidup si bocah. Bahkan sejak si bocah masih bocah. Di masa di mana sang ayah mencoba mewariskan asa-nya untuk jadi pesepakbola pada sang anak. Saat itulah kesenangan mulai tumbuh. Tumbuh sebagai penggila sepakbola. Sepakbola hanyalah olahraga dan permainan. Namun bagi penggilanya lebih dari itu.

Si bocah mungkin akan meniru ayahnya untuk mewariskan kesenangan bermain sepakbola pada bocah-bocah keturunannya. Si bocah kini tetap menikmati sepakbola. Tidak harus profesional. Si bocah bisa menulis apapun melalui sepakbola. Si bocah bisa mencari kesenangan dari sepak bola melaui video game, futsal, tulisan, televisi, media dan segalanya. Jika kaya, mungkin si bocah kelak akan jadi seperti Roman Abramovic atau Silvio Berlusconi yang menghamburkan uang hanya demi sepakbola. Atau menjadi Ayi beutik yang menukar hidupnya demi sepakbola. Total di sisi lapangan hijau. Atau hanya terus bercerita. Bercerita yang menarik dengan sesama penggila bola.

Mimpi dan cita-cita si bocah telah mati. Namun hidup masih ada. Sepakbola tak sebatas lapang hijau, lebih luas dari itu Sepakbola adalah gaya hidup.

 

Kini, mungkin si bocah masih terlelap. Biarkan saja jangan dibangunkan. Karena imajinasi penting bagi bocah seusianya. Dia masih bermimpi menjadi seperti Tsubasa. Bisa melakukan tendangan jarak jauh lalu menukik tajam seperti elang, seperti camar, seperti rajawali. Indah sekali, indah sekali.

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cerpen, Semacam terserah, Semacam Tulisan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s