Gembel Elite Semalam

Waktunya beristirahat setelah menempuh perjalanan beberapa puluh kilo meter dari kota Bandung, kota yang suatu saat akan saya rindukan. Dengan bebek beroda dua menembus jalanan berlubang, hujan gerimis dan kelaparan. Sampailah kami di kota hujan.

Sejenak beristirahat sambil menunggu waktu shalat Isya di masjid yang sebelumnya juga menjadi tempat kami menunaikan ibadah shalat Maghrib. Terdampar di sini karena tanpa sengaja masjid ini yang saya temukan beberapa saat setelah  adzan maghrib berkumandang.

Sampai di sana belum jelas kami akan tidur di mana. Karena kawan yang diharap memberi tumpangan tidur malah membatalkan janjinya. Sangat enggak kebetulan karena pas hari itu kawannya yang gak saya kenal sudah lebih dulu ada di sana dengan maksud sama, yaitu menumpang tidur semalam. Dengan dalih tak ada cukup ruang untuk kami berbaring di sana, jadi kami maklumi. Tak habis akal lalu coba cari kawan lain yang diharap bisa berbaik hati mau menyisihkan sedikit ruang untuk kami bisa tidur nyaman semalam saja. Tapi ternyata dia juga sulit dihubungi. Sampai akhirnya adzan Isya berkumandang, belum ada jawaban dari pesan singkat yang sebelumnya saya kirim.

Hari semakin malam setelah kami menunaikan shalat Isya di masjid itu. Masjid yang lumayan besar, banyak ukiran, dan sekilas saya rasa mirip gereja. Duduk diam di selasar masjid sambil memandangi langit berharap ada bintang-bintang yang muncul. Sambil sesekali menengok ponsel barangkali ada balasan dari kawan yang dimintai izin dadakan untuk bisa numpang tidur di situ.

image

Semakin malam, semakin sepi. Saya masih bercakap berbasa-basi ngobrol sana-sini dengan kawan saya yang menemani dan miliki kepentingan yang sama sehingga sama-sama terdampar di masjid ini. Kami membahas banyak termasuk seorang bapak-bapak di depan kami yang sedang sibuk mengepel lantai halaman masjid malam-malam dan dua orang bocah perempuan yang sedang asyik menari-nari atau bermain-main di halaman masjid malam-malam. Sedang apa mereka malam-malam? Maksud saya mengapa mereka melakukannya malam-malam ? Kenapa harus semalam ini? Di malam saat kami sedang ngantuk ingin tidur. Tapi kami sadar itu bukan urusan kami dan percakapan kami pun cuma basa-basi.

image

Sudah larut, malam semakin sepi. Bapak yang tadi sedang mengepel dan bocah yang sedang mengotorinya pun sudah tak nampak. Bisa jadi mereka menghilang ketika kami sedang asyik mengobrol tentang yang lain, ketika kami sedang tidak memperhatikan mereka. Sisa dua satpam di pos. Mereka berguna untuk mendengarkan keluh kesah kami yang resmi menggembel karena sudah selarut ini belum ada yang memberi tumpangan tidur. Akhirnya kami datangi dua satpam itu.

“Pak, kami mau minta izin buat numpang tidur di masjid ini. Apakah boleh?” kira-kira itu yang saya ucap dengan sedikit canggung.

“Silahkan kang, timana emang kang?”

“Kami dari Bandung, berdua pak.”

“Oh, mangga. Tapi untuk keamanan akang kudu nitip KTP, jadi kalo ada apa-apa gampang diteangna.”

Begitu kira-kira percakapan intinya yang saya sudah lupa percakapan lengkapnya bagaimana. Yang jelas kami waktu itu ditawari rokok herbal dan disuruh baca brosurnya agar kami tertarik untuk merokok. Entahlah, mungkin pak satpam juga miliki selera humor yang belum bisa kami pahami maksudnya. Sehingga kami ketawa segan menertawakan diri sendiri.

Setelah percakapan itu langsung kami beri itu KTP. KTP yang diminta mungkin sebagai jaminan jika kami menghilang bersama kotak amal di dalam masjid kami akan mudah dicari. Sejak detik itu kami resmi jadi gembel tanpa identitas penduduk. Tapi saya sedikit senang karena akhirnya E KTP yang konon kata pak RT sudah canggih, akhirnya bisa berguna juga sebagai tiket menginap di masjid.

Semakin larut, sudah sepi. Saya lupa jam berapa. Sepi kota ini walaupun sesekali masih terdengar suara mesin kendaraan yang lewat di jalanan. Walaupun lelah kami belum bisa tidur karena kami harus menunggu orang yang ditunjuk pak satpam untuk menunjukkan di mana letak kami bisa tidur berbaring. Sambil menunggu kami kembali ke selasar masjid di tempat kami tadi melihat bocah dan bapak yang sedang ngepel.

Ponsel bergetar tanda pesan masuk. Ternyata pesan dari kawan saya. Isi pesan intinya adalah dia memperbolehkan saya dan teman saya menginap di kontrakannya. Menghela nafas dan keep keleum. Lagi pula saya sudah menggunakan KTP saya untuk menginap di rumah Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segan untuk mengatakan tidak jadi, kami pilih untuk tetap menginap di masjid ini.

Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak menghampiri kami. Sebagai bapak-bapak dia tidak terlalu tua atau pun muda. Dia bapak-bapak tulen pas di umurnya sudah pantas menjadi bapak-bapak. Rambutnya pendek dan putih dibeberapa bagian seperti dalmatian.

“Nginep di sini kang?” bapak itu bertanya, dengan nada ingin akrab.

“Iya pak, bapak?” maksud saya tanya balik biar impas.

“Saya juga nginep di sini, enak di sini adem.”

Lalu dia bertanya seperti satpam tadi tentang kami dari mana, dan mau ke mana, dan pertanyaan basa-basi lainnya. Sebenarnya saya pun ingin bertanya pertanyaan yang sama tapi segan, karena biasanya problem orang tua lebih rumit. Saya takut penyebabnya terdampar di masjid ini bukan karena masalah sepele dan malah tersinggung.

Basa-basi kami mulai habis dan mulai bertukar cerita. Dan layaknya orang tua yang sudah hidup lebih lama selalu miliki cerita menarik. Mungkin karena kami dari Bandung, bapak itu mencari cerita yang pas tentang Bandung. Dia bercerita mulai dari PERSIB dan mertuanya yang seorang bobotoh penggila PERSIB, kuliner di Bandung, daerah wisata di daerah banjaran lalu suasana tahun baru di daerah ciwidey yang menurutnya mengecewakan.

Dari semua percakapan itu karena saya juga bobotoh PERSIB, saya tertarik dengan cerita mertuanya sebagai penggila PERSIB. Jauh-jauh ke Bogor masih cerita PERSIB. Sebenarnya gak terlalu luar biasa apabila ada penggila PERSIB di Bogor karena konon PERSIB adalah tim sepakbola kebanggaan masyrakat Jawa Barat dan Banten.

Tapi bicara tentang PERSIB dengan orang baru selalu istimewa karena pengalamannya yang unik dan menjadi cerita segar di otak. Bapak ini bercerita tentang mertuanya yang seorang pensiunan tentara penggila PERSIB. Mertuanya yang sudah cukup tua meminta anaknya untuk mengantarkan dirinya ke Stadion Si Jaka Baring Palembang agar dapat menonton langsung laga Final PERSIB vs Persipura yang berujung PERSIB juara dan mengakhiri dahaga 19 tahun penantian gelar Juara Liga Indonesia.

Cerita mertua si bapak ini adalah salah satu cerita yang saya dengar langsung. Karena sebelumnya saya hanya tahu cerita gila bobotoh dari media online. Terasa berbeda jika mendengar secara langsung. Selain itu bapak ini bercerita tentang antusiasme bobotoh di Bogor ke pada PERSIB yang tidak kalah fanatik dengan yang ada di Bandung. Mulai dari nekadnya mereka untuk melakukan apa pun untuk bisa menonton PERSIB langsung ke stadion di mana pun PERSIB bertanding.

Hari sudah malam, sepi sudah sunyi sudah, ngantuk pun sudah. Lelah juga meladeni bapak ini bercerita. Akhirnya bapak ini mengajak kami ke bagian samping masjid. Di sana ada banyak karpet sebagai alas kami untuk tidur. Kondisi yang cukup mewah bagi seorang gembel seperti kami. Ternyata bapak ini sudah berpengalaman untuk menumpang tidur di masjid, dia hafal betul caranya tidur dengan nyaman di masjid. Saya meniru caranya membuat formasi tidur dan tata letak karpet agar dapat gulungan yang dapat dijadikan bantal sehingga nyaman untuk menyandarkan kepala.

Sudah hampir tengah malam bapak itu sudah tidur nyenyak. Sedangkan saya dengan kawan saya masih setengah tidur karena kami tidak mempersiapkan diri untuk bisa bertahan dari serbuan satu bataliaon nyamuk. Terpaksa kami tidur sambil bertempur. Aneh memang, kami tidur sambil menampari diri sendiri. Tampar pipi, paha, kaki dan tepuk tangan. Tidur macam apa itu, sambil berolah raga.

Mungkin jam satu pagi. Ku tahu bapak itu terbangun dan mengambil wudhu lalu shalat malam. Saat serangan nyamuk mulai mengendur dengan sedikit tenang aku masih setengah tidur sambil merenung. Beginilah hidup yang kita nikmati selalu berbagi untuk saling mengenal satu sama lain. Ketika detik ini sedang tertidur pulas, di detik yang sama bermilyar manusia di dunia sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Mungkin ada yang sedang beribadah, mungkin cari makan, mungkin di jalan, mungkin meregang nyawa, mungkin kelaparan, mungkin dugem dan banyak kemungkin lainnya. Namun sebaik-baiknya kegiatan mereka adalah mereka yang masih mengingat tuhannya dalam kondisi apapun itu. Sambil bertempur dengan nyamuk pun Dia lah yang layak diingat. Karena dengan izinNya nyamuk yang dengan satu tepukan bisa kamu bunuh pun, bisa membalikan keadaan dengan memberi penyakit bahkan kematian.

Akhirnya tertidur. Tau-tau sudah pagi. Di ruang utama sudah banyak orang yang hendak shalat subuh. Dan bapak itu entah ke mana. Dia tidak terlihat lagi di masjid itu. Apakah dia pergi tanpa shalat subuh dulu di masjid ini. Begitu terburu-buru kah dia. Apapun itu memang sepenuhnya bukan urusan saya.

Pagi itu, setelah shalat subuh masa gembel kami berakhir. Karena kami hendak mengambil KTP kami. Dan mengucap terima kasih kepada bapak satpam karena diperbolehkan menginap di masjid itu. Dan saya juga berterima kasih karena bisa nitip bebek roda dua di basemen masjid yang padahal dilarang. Dan tulisannya tepat di depan motor saya (Dilarang menitip motor menginap di masjid ini). Dan maaf, saya beneran gak lihat. Dan akhirnya kami harus bayar goceng ke pak satpam.

mesjid raya bogor

Terakhir saya ucap terima kasih kepada kawan saya yang bikin saya gak jadi menginap di sana. Karena dengan itu saya jadi tahu rasanya jadi gembel elite.

*11 Januari 2015*

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s