Fujoshi Occursum

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Sudah dua angkot lewat, tapi aku masih duduk di bangku emper sebuah toko photocopy. Lalu seorang siswi SMA, kutebak mungkin dia sudah kelas 3, muncul dengan seragam SMA tertutup sweater yang sedikit basah dibagian ujung roknya. Dia duduk di sebelahku, satu-satunya tempat yang tersisa.

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Dia menoleh dan tanpa basa-basi langsung bertanya : “Pernah nonton film Batman and Robin versi Jepang?” Aku menatap wajahnya sebentar, lalu menggeleng. “Emh, mau aku setelin ? Ada nih di laptop aku. Batre laptop aku cukup buat nonton filmnya sampe abis. Cuma 30 menitan kok,” katanya lagi. Aku menatap wajahnya lagi lalu menggeleng. “Kamu gak tahu, ya, kalau si Joker musuhnya Batman ganteng banget di film itu?” tanyanya lagi. Aku menatap wajahnya sekali lagi, lalu menggeleng.

Ia tampaknya kesal dengan sikapku, tapi aku juga tak kalah sebal. Ia tiba-tiba datang menanyakan sesuatu, bertanya lagi dan lagi, juga menawarkan sesuatu yang aneh: menonton film di emper sebuah toko photocopy saat hujan deras dan jalanan mulai tergenang.

Aku menatap wajahnya sekali lagi, ia tampak merengut. Pupil matanya begitu gelap. Rambutnya lurus, panjang dan juga hitam gelap. Tapi ia mengenakan switer biru muda. Wajahnya sedikit imut, cuma sedikit, sisanya: aneh. Jidatnya cukup lebar, poninya seperti kuda dan bertingkah malu-malu seperti Hinata. Ia masih merengut. Iseng aku bilang: “Sepertinya kamu lahir di hari Cosplay, ya?”

“Hari Cosplay?

“Ya, Cosplay. Kenapa?”

“Memangnya ada hari Cosplay? Hari kan cuma ada tujuh, dan gak ada yang namanya Cosplay.

“Hari memang ada tujuh, tapi ada jenis hari lain, ada hari koperasi, hari palang merah, dll. Kenapa harus tidak ada Cosplay?”

“Kamu ini aneh banget.”

Aku tertawa geli. Dia lalu menawarkan untuk menceritakan sinopsis film Batman and Robin versi Jepang tadi. Ku pikir tak ada salahnya mendengarkannya, setidaknya itu lebih masuk akal ketimbang nonton film di laptop pada sebuah emperan toko photocopy saat hujan deras dan jalanan mulai tergenang.

“Ini film udah lama, kamu belum lahir, aku juga belum lahir. Ceritanya tentang Batman dan Robin yang lagi ngejar si Joker di Tokyo. Si Joker sembunyi di rumahnya ketua Yakuza. Di film ini si Robin ceritanya suka sama anaknya ketua Yakuza yang cantik. Suatu waktu si Robin yang jatuh cinta sama anak ketua Yakuza berkhianat sama Batman. Si Robin lebih milih ada di kubu si Joker dan sekaligus menjadi musuh si Batman. Lalu Batman mencari cara buat ngalahin si Joker, Robin sama ketua Yakuza. Akhirnya si Batman menculik anaknya si ketua Yakuza dan Robin pun berhasil dibujuk buat kembali jadi temen Batman. Dan ketua Yakuza itu pun menyerah sama Batman demi anaknya. Akhirnya Batman, Robin sama ketua Yakuza jadi temenan buat ngelawan si Joker.”

“Film yang aneh,” kataku.

“Aneh apanya? Itu gak aneh, ceritanya biasa, kan? Aku heran kenapa cerita jelek kaya gitu sampai dibuatkan film. Kayak gak ada cerita lain aja,” ujarnya dengan nada sedikit mengomel.

“Ohhh, menurut kamu itu film jelek? Lalu kenapa tadi kamu nawarin aku nonton film itu kalo emang jelek?”

“Aku gak bilang film itu jelek, cuma ceritanya biasa aja, gak istimewa.”

“Kalau ada orang yang lihat kamu lagi nyanyi lagu Potong Bebek Angsa terus dia pingin jadi pacar kamu gimana ?”

“Mana mungkin orang tiba-tiba pingin jadi pacar aku cuma gara-gara aku nyanyi lagu Potong Bebek Angsa?”

“Siapa tahu nyanyian kamu bagus. Coba aja nyanyi, siapa tahu nanti aku ingin menjadi pacarmu,” kataku. Dia tertawa terbahak-bahak. Dia menyebutku bodoh tapi lucu, atau yang agak mirip-mirip dengan itu, aku tak mendengarnya dengan jelas, karena saat itu persis ada suara petir menggelegar. Dia tampak kaget dan refleks menutup kedua telinganya. Aku tertawa melihat ekspresinya. Dia tampak kesal karena aku tertawakan.

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Lalu, tiba-tiba saja, dia menyanyi. Mulanya aku tak bisa mendengarnya, lalu suaranya makin keras, sampai kemudian aku tahu ia sedang menyanyikan lagu apa. “Nona minta dansa, dansa empat kali….” Ia menyanyi dengan penuh semangat, suara hujan bisa ia taklukkan, suara angkot kelima yang lewat juga bisa ia tundukkan, dan terakhir bahkan suara petir pun bisa ia kalahkan. Ia berteriak-teriak: “Serong ke kiri… serong ke kanan…” Ketika ia sampai pada kalimat “sering ke kanan”, ia menyenggolku dengan pinggulnya. Kami tertawa, ya… tiba-tiba saja tertawa. Lalu ia menyodorkan permen lolipop ke arah mulutku, aku langsung mengemutnya. Kami tertawa lagi sampai kemudian ia bilang: “Jadi, apa kamu mau jadi pacar aku?”

Aku bengong mendengar pertanyaannya. Kupikir dia serius jika menilik wajahnya. Lalu aku tertawa lagi, dan dia juga tertawa lagi. Aku menepuk-nepuk pundaknya. Kukeluarkan sekaleng bir dari tas kecilku. Ia membukanya. Suara desisnya tak terdengar, tapi aku bisa melihat ruap busa bir yang muncul di permukaan kaleng. Ia menenggaknya. Ia sedikit cegukan.

Aku bertanya apakah Joker dalam film Batman and Robin versi Jepang yang diceritakan tadi itu miliki karakter mirip Hisoka seorang badut di HxH, ia mengangguk. Apakah Joker versi Jepang lebih tampan dari Joker Hollywood, tanyaku. Ia mengangguk lalu mengoceh: “Eh, kamu tahu L Berukman ? Pemeran Jokernya seganteng dia loh, Aktor yang gosipnya maho sama Betren Ontohod. Kamu pasti gak tahu kan? Aku kasih tahu, ya. Mereka berdua itu digosipin maho gara-gara belum nikah nikah sampe tua padahal mereka ganteng-ganteng. L Berukman pernah cerita, dulu waktu masih kecil dia pernah sama bapaknya duduk di sebuah halte pas lagi hujan gede, mungkin hujannya persis kaya gini. Nah, bapaknya bilang begini: Kalo kamu bisa terus anteng dan gak rewel, kamu akan bapak beri permen tiap hari Minggu. Itu kejadiannya pas dia sama bapaknya lagi di halte bus pas lagi hujan gede, kaya kita sekarang ini. Bedanya kita di emper toko photocopy dan nungguin angkot.”

Saat ia mengoceh tentang L Berukman, aku tiba-tiba merasa iba padanya. Aku merasa ia gadis yang tak punya banyak teman. Tapi itu pula yang kurasakan. Untuk pertama kalinya aku berpikir kami bisa menjadi teman.

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Angkot ketujuh lewat. Angkot itu penuh. Angkot itu tak berhenti. “Aku mau kasih kamu permen kalo kamu bisa cerita lagi tentang film-film versi Jepang,” kataku. Ia tersenyum dan bertanya apakah ada permen di tasku. Aku mengangguk. Bagus, katanya, lolipopku sudah habis. Lalu aku memberinya permen yang kuambil dengan tergesa dari tasku. Lalu ia bercerita tentang Ru Paul dan Frank Marino. Setelah itu ia bercerita tentang film-film Lee Jun Ki.

“Hei, kelas berapa kamu sekarang?”

“Kelas 3.”

“Kenapa kamu fasih banget bercerita tentang film-film Jepang dan artis-artis Maho?”

“Karena aku suka cowok maho.”

Aku tertawa terbahak-bahak. Aku tak menangkap hubungan antara film-film Jepang dengan kecenderungan seksual, kecuali dalam soal ia memang selalu bercerita tentang aktor ganteng yang terus menjomblo. Tapi aku merasa itu jawaban yang bagus sekali, entah kenapa aku berpikir begitu. Kupikir, pertanyaan dan jawaban tak perlu harus berkaitan, apalagi saat sedang berada di emper toko fotocopy sore hari menjelang malam, saat hujan sedang deras dan jalanan mulai tergenang.

“Aku pikir kita bisa jadi teman,” kataku, mengulangi apa yang sudah kupikirkan beberapa menit sebelumnya. Ia mengangguk sembari menjawab: “Sayang ya kita gak bisa jadi pacaran.” Dia tertawa sendiri mendengar ucapannya itu. Aku memberinya permen lagi dan berkata: “Setidaknya kamu bisa memotong bebek angsa buatku.” Dia mengangguk-angguk, lalu bertanya lagi: “Bukankah bebek dan angsa itu berbeda? Kenapa lagunya berjudul Potong Bebek Angsa ya? Harusnya Potong Bebek Kampung atau Potong Angsa Jantan.”

Aku mengangkat bahu, dia kembali mengemut permen yang kuberikan, lalu bercerita tentang film Papa to Kiss in the Dark. Itu adalah film kartun Jepang, kata dia. Ceritanya tentang seorang laki-laki bernama Mira yang tinggal berdua bareng ayahnya. Ayahnya adalah aktor tampan, usianya baru 29 tahun dan Mira baru masuk SMA , ceritanya yah begitulah ada hubungan yang “tanda kutip” diantara mereka lebih dari sekedar ayah dan anak. Aku mendengarkannya sambil menenggak sekaleng bir saat dia bertanya: “Apakah kamu tertarik pergi ke Jepang?”

Hujan makin deras, jalanan sudah lama tergenang.

================

Hasil sadur miliki makna berbeda, anggap saja tulisan ini hadiah

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cerpen, Semacam Tulisan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Fujoshi Occursum

  1. Ayren says:

    Wait. kamu, eh bukan, apa itu kisah nyata dari kamu atau karangan? kalau iya kisah nyata. Well, aku ga menyangka dia mau membeberkan identitasnya sebagai Fujo. Wait, dia cewek atau cowok? aduh, kayaknya terlalu baca cepat. kalau dia cowok berati Fudanshi. Well, aku juga nonton yang anime itu yang soal “ayah” LOL.

    Like

    • bit_90 says:

      Cerita ini melibatkan ingatan yang disunting, kenangan yang diedit, juga memory yang dihapus. Coba dibaca lagi pelan-pelan. Dalam cerpen ini dia gak kasih tau dirinya seorang fujoshi. Tapi, apa-apa yang dia bicarakan, film yang dia tonton dan aktor yang dia sebutkan semuanya mengindikasikan dia adalah fujoshi. Sampai akhirnya semua jelas dalam percakapan ini.
      “Kenapa kamu fasih banget bercerita tentang film-film Jepang dan artis-artis Maho?”
      “Karena aku suka cowok maho.”
      Saya sebetulnya gak terlalu paham dengan fujoshi, Jepang, Anime atau sejenisnya. Tapi karena itu saya sedikit mencari tahu kepada teman, internet, dll. Dan akhirnya saya simpulkan dia adalah seorang fujoshi atau yaoi atau apalah yang semacam nya. Dia yang saya maksud itu cewek. Dalam cerpen ini sudah dideskripsikan. Contohnya seperti pada kalimat di paragraf pertama ini.

      ~Lalu seorang siswi SMA, kutebak mungkin dia sudah kelas 3, muncul dengan seragam SMA tertutup switer yang sedikit basah dibagian ujung roknya. Dia duduk di sebelahku, satu-satunya tempat yang tersisa.~

      Terima kasih sudah berkunjung. Dan sudah mau-maunya baca cerpen ini 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s