Kwetiau

Pulang berjibaku dalam rutinitas sore itu. Ku ganti seragam perangku dengan seragam perang yang lain. Yaitu seragam perang khas petarung lapangan hijau. Lalu kuhirup udara senja yang indah dan berjalan di kolong langit jingga. Tiba-tiba motor matic menghampiri. Dan ternyata dia. Dia benar-benar datang menghampiri aku yang sedang tenang menyusuri trotoar. Mungkin untuk menepati janjinya, untuk senang makan malam bersamaku.

“Ayo naik.” tawarnya. Aku cuma diam, sedikit melirik dan menggelengkan kepala. Lalu melangkah lagi dan ku tiungkan jaketku.

Tiiittt….. Suara klakson berbunyi. Ternyata dia lagi. Sepertinya belum menyerah untuk mengajakku naik matic-nya. Aku tengok lagi. Dia buat matic-nya kokoh berdiri sendiri lalu dia bergeser ke jok bagian belakang, seperti memberikan aku ruang untuk duduk di jok bagian depan.

“Ayo naik.” Tawarnya lagi. “Kamu yang bawa. Ini helmnya biar kamu saja yang pakai.” Sambil menyodorkan helm-nya. Sedangkan aku berusaha menolak sambil menunduk dan gelengkan kepala lagi.

“Hmm ayolah.” Dia sedikit memaksa.

Baiklah akhirnya aku menoleh kebelakang, lalu berputar dan menghampirinya.

“Oke, berikan helmnya.” Ku meminta helmnya.

Helm nya berwarna putih dan bercorak merah muda bunga-bunga. Kupikir sangat tidak cocok untuk aku kenakan. Tapi, daripada ditilang terpaksa ku pakai dan dia tersenyum.

Aku naiki matic-nya dan dia kubonceng dibelakang. Ku pacu matic-nya sangat pelan kurang dari 40 Km/jam agar tidak rusak. Maklum itu bukan motor milikku yang biasa ku pacu lebih dari itu.

“Mau ke mana sekarang?” Kutanya.

“Kita akan makan-makan kan? Aku sudah janji.” Jawabnya. “Jadi kamu mau makan di mana?” Dia balik tanya.

“Aku gak tahu, terserah kamu saja.”

“Gak boleh terserah.”

“Aku gak tahu sekitar sini, kamu saja yang tentukan tempatnya.” Itu aku, pura-pura gak tahu.

“Gimana sih.”

“Ya sudah ke arah timur saja gimana?”

“Oke.”

“Nah bagus, tolong tunjukan arahnya menuju tempat makan yang ada di daerah sana.”

Lalu dia mengangguk tanda mengiyakan. Kami langsung menuju ke sana dengan jalan yang memutar karena menghindari sesuatu. Kami seperti sedang menghindari dan bersembunyi dari sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kami hindari. Yaitu orang-orang yang mungkin mengenali kami.

Dalam perjalanan keadaan seperti terbalik. Aku yang diam justru jadi lebih banyak berbicara. Aku mencoba bertanya banyak agar kami saling mengenal. Sebenarnya dia menjawab dengan baik, namun sekarang dia banyak diam. Sedikit sekali pertanyaan yang dia lontarkan. Aku jadi seperti polisi yang sedang mengintrogasi. Aku sadar tak memahami apa maunya. Yang jelas jadi hambar dan mulai membosankan sore itu, kala senja semakin jingga, semakin indah, matahari mulai terbenam.

“Belok ke mana ini?” Kataku di sebuah persimpangan jalan yang sebenarnya sudah aku tahu harus belok ke mana.

“Belok kiri lalu putar ke kanan.”

“Oke.”

Aku coba untuk diam juga dan pura-pura tidak memahami jalan. Ku harap dengan begitu dia akan lebih banyak bicara walaupun hanya sekedar menunjukan arah belok kanan atau kiri. Dan ternyata sedikit berhasil, akhirnya dia mau bicara tunjuk arah sana-sini, untuk segera sampai menuju tempat yang kami mau.

Sampai lah di sana tempat makan yang aku tidak tahu akan makan apa di situ.  Ada beberapa orang di sana seperti memperhatikan kami dengan kerut dahi. Dan aku sadar aku salah kostum karena memang disengaja. Aku ingin tahu apa yang terjadi bila aku seperti ini(pakai stelan nonton bola) bukan di tempat nobar, bukan di stadion, dan bukan mau futsal, Namun dengan dia seorang perempuan bertudung di depanku dan makan bersama.

Dia mulai pesan makanan apa yang dia mau. Aku hanya memerhatikannya sampai kemudian tiba giliranku memesan. Tanpa pikir panjang ku buat sama saja apa yang aku pesan dengan apa yang dia pesan. Tanpa tahu persis apa sebenarnya yang dia pesan. Lalu dia bertanya dengan nada pelan.

“Kamu suka pedas?”

“Iya.” jawabku dengan nada ragu.

Dan dia cuma kembali diam, lalu tengok HP, lalu ketik ini-itu yang aku gak tahu. Mungkin pesan untuk bodyguard-nya, mungkin untuk temannya, mungkin untuk orang tuanya, atau cuma buka tutup kunci keypad. Sumpah aku tidak paham dia sedang apa. Dia lebih memilih bicara dengan gawainya dibanding dengan manusia dihadapannya.

Akhirnya makanan datang. Berupa seperti mie. Dan sekarang kamu aku harus tahu dia pesan apa. Iya, kamu tahu lah itu bukan pasta, bukan juga ramen. Itu semacam kue. Kue apa? Kwetiau. Rasanya gak enak, tapi tetap ku telan karena bayar. Rasanya pedas, tapi tak apa, menurutku lebih baik daripada dia yang jadi hambar tak mau bicara. Mungkin karena lagi M. Ngaruh gitu? Aku hanya percaya dia bisa begitu apabila M yang dimaksud adalah mencret. Makananku hampir habis ku santap dan ku sisakan sedikit sebagai tip buat pelayan di sana, barangkali ada yang mau. Sedangakan makanan dia masih ada separuh. Separuhnya lagi mungkin ditelan, mungkin juga dimasukan ke dalam plastik buat bekal dibawa pulang.

“Makannya gak dihabisin?” Aku tanya.

“Ga ah, udah kenyang.”

“Yeee.. Katanya pingin gendut.” Aku bilang begitu karena memang sebelumnya kami bercanda untuk jadi serius makan bersama dengan alasan buat bikin dia jadi gemuk. Tapi kampret, dia malah senyum doang dan lalu bilang.

“Aku mah ga bakalan bisa gemuk, paling gemuknya cuma di pipi doang.”

Tanggung garing ku hentikan percakapan dan tidak aku perpanjang lagi soal misi bikin dia jadi gemuk. Dan hari sudah mulai malam, belum larut namun sudah gelap. Sebenarnya ada rasa ingin lebih lama lagi di sini. Tapi untuk apa kalo cuma diam. Di rumah juga bisa makan bareng tembok, bareng spion, atau bareng gayung.

Sebelum pulang tentu kami bayar dulu. Di depan kasir kami sama-sama mengeluarkan uang pecahan Rp 100.000,- . Aku tak sempat lihat total harga yang harus dibayarkan ke kasir. Karena aku harus fokus biar dia jangan bayar. Namun, posisi dia lebih dekat ke kasir dan dia berhasil mendahului ku mengantarkan uang ke tangan si kasir. Saat dia sedang lengah, kasir tepat sedang menyodorkan uang kembalian lalu aku segera menyerobotnya dan berhasil menjadi orang yang menerima uang kembaliannya. Dia hanya diam. Lalu aku langsung pergi ke parkiran menuju tempat matic-nya bertengger.

“Nih uangmu ambil aja.” Ku berikan uang seratus ribu rupiah punyaku ke dia. Dan uang kembalian dari kasir tadi kumasukan ke dalam pesak.

“Kenapa?” Dia seperti pura-pura heran.

“Karena aku nanti pulang naik angkot, repot kalo gak ada receh.” Dia kembali diam dan lalu memberikan kunci matiknya lagi kepadaku sebagai isyarat untuk aku bawa motornya lagi sampai ke rumahnya. Setelah kuterima kuncinya lalu ku bawa motornya dengan kecepatan normal setelah yakin semuanya beres. Salah satunya bayar parkir ke tukang parkir.

Sama seperti pada saat berangkat dia menunjukan arah harus kemana-kemananya. Dan akhirnya sampai ke tempat di mana dia minta berhenti. Tempatnya percis di depan pangkalan becak. Kukira disitu bukan rumahnya. Aku tebak dia ingin aku untuk melanjutkan perjalanan menggunakan becak itu. Tapi tenyata enggak, kecewa sih. Tebakan ku gagal. Ternyata dia memang minta berhenti di situ. Namun bukan rumahnya. Dia bilang rumahnya memang sekitar situ, namun dia belum mau pulang. Ada suatu kepentingan lagi yang harus dia kunjungi.

Aku turun di situ dan mengembalikan helm yang kupakai. Ops, lupa belum kuceritakan saat ku pakai lagi itu helm sepulang dari tempat makan tadi. Lanjut, Setelah aku turun, dia memposisikan duduknya ke posisi yang mantap untuk berkendara sendirian meninggalkan aku yang juga jadi sendirian, di situ, di depan pangkalan becak. Tapi dia tidak kunjung pergi dia malah bersikukuh menunggu aku. Sepertinya dia bersedia pergi hanya jika aku sudah naik ke angkot.

“Kamu nunggu apa lagi?”

“Aku menunggu kamu di sini sampai kamu naik angkot.”

“Gak bakalan ada angkot berhenti, kalo kamu tetep ada di sini.” Dengan nada sedikit mengusir.

Dan benar beberapa angkot kosong hanya lewat begitu saja. Mungkin dalam benak supir angkot yang lewat itu, aku seperti sedang mengobrol asyik dengan dia. Jadi angkotnya gak mau berhenti, karena segan untuk menyuruhku lekas naik ke angkotnya. Karena takut mengganggu. Padahal tidak sama sekali.

Entah kenapa selain percakapan yang kutuliskan, sebenarnya hari itu dia begitu pendiam. Diamnya tidak diam. Mungkin diamnya terlihat di hadapanku namun aku bisa lihat dia tidak diam pada Hapenya. Mungkin hapenya lebih canggih dalam berkomunikasi walaupun tak usah diberi makan. Cukup disuapi pulsa dan terus bisa berbicara. Atau mungkin karena sedang M, atau PMS, atau apalah tadi ku dengar sedikit dia bilang begitu. Sedang berhalangan untuk mendirikan shalat.

Akhirnya aku paksa satu angkot untuk berhenti dengan mengacungkan jari tengahku di hadapannya. Angkot pun berhenti dan aku naik.

“Kapan-kapan main lagi ya?” Itu yang aku katakan sebelum angkot kembali melaju. Mudah-mudahan bila benar bisa main bareng lagi dengan dia. Dia tidak lagi begitu. Hanya diam, dan garing, dan membosankan. Aku ingin tawa, karena takutnya Diam-diam dia malah berak.

Setelah itu mungkin dia pergi lagi bersama matic-nya entah kemana. Mungkin ke rumah. Tapi dalam benakku dia pergi makan-makan lagi. Karena kuyakin dia belum kenyang. Mungkin dia masih butuh 3 piring lagi untuk kenyang. Dan mungkin nanti dia makan-makan dengan gak diam. Mungkin dia makan bareng Hapenya yang sedari tadi diajak berkomunikasi. Mungkin begitu. Menurut benakku sangat mungkin.

Sedangkan aku pulang naik angkot. Selagi di dalam angkot aku meringis-meringis sendiri. Tengok kanan-kiri. Mungkin gara-gara pedas. Jadi rasanya seakan ingin beraksi sejak tahun 1995.

*Sekian secuil kisah dari Bogor Kota Hariwang

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, cerpen, Semacam Tulisan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kwetiau

  1. Pingback: HEMISPHERES

  2. Pingback: Kwetiau | HEMISPHERES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s