Deadline-deadline Yui Rhythmic Canticum

Malam Minggu ini terjebak di kamar bersama laptop, gitar, buku-buku, Tugas Akhir dan lagu Yui. Di antara beberapa hal yang terjebak bersama saya malam ini, Tugas Akhir dan lagu Yui menjadi hal yang mengingatkan saya pada suasana di masa lalu. Tugas Akhir sebagai sebuah serangkaian kegiatan yang harus segera diselesaikan dan juga lagu Yui sebagai pemecah sunyi di malam hari membawa saya pada suasana di masa dulu.

Yui seorang penyanyi Jepang itu, yang katanya dulu pengamen itu, dan sekarang sudah terkenal itu. Yup, lagu Yui yang sebagian sendu-sendu dan ada pula sedikit yang berirama agak cepat. Bunyi-bunyi lagu Yui yang saya dengar sekarang ini membawa ingatan saya ke masa lalu yang sebetulnya belum terlalu lampau-lampau amat.

Ingatan yang terekam kurang-lebih dua tahun yang lalu. Dua tahun lalu saya pernah mengalami rasanya berlelah-lelah memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab. Waktu itu saya adalah seorang mahasiswa yang sedang melaksanakan Kerja Praktek di sebuah perusahaan. Walaupun cuma berstatus sebagai mahasiswa magang yang sedang melaksanakan kegiatan kerja praktek, sama seperti halnya karyawan di sana, saya juga diberikan hak dan kewajiban. Namun, tentu dengan porsi yang lebih kecil.

Ketika itu saya diberikan tugas untuk menyelesaikan tugas drafting yang lumayan menumpuk. Sampai akhirnya saya harus bekerja lembur setiap hari selama dua minggu penuh untuk mengejar target. Lembur demi lembur saya jalani dari mulai haris Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan bahkan di hari Sabtu, juga Minggu. Sialnya ketika sampai di hari Sabtu saya diminta untuk lembur sampai pagi oleh pembimbing saya di industri.

Semua karyawan sudah pulang kecuali saya dan pembimbing saya. Dia bilang akan menemani saya lembur di malam Minggu ini. Saya sih cuek saja. Karena dibenak saya ada yang terbalik dari apa yang dia ucap. Tentu saja jumlah pekerjaan dia sudah pasti lebih banyak dari saya. Jadi mana mungkin dia lembur sekedar untuk menemani saya. Yang ada saya yang menemaninya sampai larut-larut malam. Bahkan sampai pagi.

Jam sudah menunjukan pukul 10.30 malam. Kami berdua bekerja menyelesaikan pekerjaan masing-masing bersama sunyi. Sunyi yang cukup untuk bisa mendengarkan suara-suara klik mouse dan ketikan jari pada keyboard.

Malam semakin sunyi dan sepi, rasa ngantuk pun mulai datang. Untuk mengusir kantuk pihak perusahaan sudah menyediakan banyak kopi untuk karyawannya yang berlembur. Kafein yang terkandung dalam kopi dipercaya ampuh untuk menghilangkan rasa kantuk. Kopi tersedia di dapur untuk dipersilahkan diseduh sendiri.

Kopi sudah siap. Namun hening mulai membuat suasana yang hikmat menjadi membosankan. Oleh karena itu untuk memecah hening dalam sunyi saya meminta izin kepada pembimbing industri untuk menyetel lagu-laguan. Dia pun mengizinkan dengan beberapa syarat dan dia pun memberi tahu bahwa di semua komputer kantor tidak ada yang berisi lagu yang dapat distel. Jadi jika ingin menyetel lagu saya harus memindahkannya dulu menggunakan flashdisk. Kebetulan sekali tadi sore saya baru saja dipinjami flashdisk oleh teman saya untuk sebuah keperluan.

Saya colokan flashdisk ke komputer dan membuka-buka folder, barangkali ada musik yang dapat distel. Dan, benar saja saya berhasil menemukannya dalam folder bernama Yui. Waktu itu saya tidak tahu siapa Yui, saya pikir stel saja dulu yang penting ada alunan musik yang dapat dinikmati ketimbang hening-hening sunyi di malam minggu.

Kemudian saya stel semua lagu Yui yang ada di folder tersebut. Jumlahnya mungkin sekitar empat puluhan lagu. Lalu saya kencangkan sedikit suara pada spiker komputer dan na.. na.. na.. lagu apa ini? Begitu fresh di telinga saya, karena baru dengar. Suara vokalnya perempuan dan ternyata bahasa Jepang, tentu saya tidak mengerti. Saya juga tidak mengenal lantunan musiknya karena mungkin belum mengenal irama musiknya. Sebelumnya saya tidak terlalu suka dengan musik Jepang. Sebelumnya saya lebih banyak menikmati musik-musik berbahasa Inggris dari Amerika seperti lagu-lagu dari MCR, LP, Incubus, 30 STM dan masih banyak lagi. Untuk lagu berbahasa Jepang mungkin saya sudah dengar beberapa, itu pun dari soundtrack-soundtrack serial animasi di teve.

Semua terdengar oke. Lagu-lagunya cocok untuk menemani sunyi di malam hari. Apalagi malam ini saya harus terjaga sampai pagi. Keluh kesah mulai mereda, lelah mulai teratasi, ngantuk? Untung sudah ada kopi.

Ada beberapa lagu yang saya stel berulang-ulang di antaranya life, good bye days, tomorow ways dan apa lagi ya, saya lupa. Sambil ditemani lagu Yui, saya lebih bisa menikmati waktu sepanjang malam. Mengetukan jari secara ritmis dan bersiul saat menunggu setiap loading pada komputer adalah bentuk kecil untuk saya menikmati waktu di tengah-tengah tuntutan yang serba harus bergegas karena sedang dikejar deadline. Meski begitu, saya enggan bila menyimpulkan hidup ini hanya sehimpun kumpulan deadline yang mesti ditaati.

Pembimbing industri yang sejak dari tadi ada di depan saya pun bekerja lebih enjoy dengan adanya lantunan lagu. Kami mengerjakan pekerjaan masing-masing sembari diselingi obrolan-obrolan ringan, tentang ini, tentang itu. Dari obrolan-obrolan ringan tentang ini, dan itu, saya mempelajari bagaimana caranya bekerja secara ikhlas dan menikmati waktu.

Menikmati waktu bukan memanfaatkan waktu. Memangnya apa yang bisa kita manfaatkan dari waktu? Dengan cara menggunakan komputer untuk menyelesaikan pekerjaan ini tepat waktu? Bukankah saya sedang memanfaatkan komputer, dan bukan memanfaatkan waktu?

Bukan juga menghabiskan waktu. Memangnya kita bisa menghabiskan waktu? Bagaimana caranya menghabiskan waktu? Bukankah pada akhirnya saya sendiri, yang pada akhirnya, akan habis, dan bukan waktu yang habis.

Karena manusia itu fana, sementara waktu itu abadi. Sebab, seperti kata Chairil Anwar, “hidup hanya menunda kekalahan/ …/ dan tahu ada yang tetap tidak terucapkan/ sebelum akhirnya menyerah.”

Suasana masa-masa berlembur di industri hampir sama seperti sekarang di mana saya sedang berpusing-pusing bergelut dengan rasa malas lah, keluh kesah, sampai keputus asaan dalam mengerjakan Tugas Akhir. Padahal deadline tinggal beberapa hari lagi.

Lagu Yui yang malam ini saya stel benar-benar membawa suasana itu kembali. Kesamaan tekanan dalam mengejar target sebelum sampai ke deadline dan lantunan musik yang saya dengar kala itu mungkin menjadi kenangan yang tak sengaja terekam dalam otak. Mungkin benar bila diumpamakan ingatan itu adalah anak yang sah dari masa silam, sedangkan kenangan adalah anak haram dari masa silam. Kenangan itu timbul dengan sendirinya tanpa perlu dicari-cari seperti hal nya ingatan.

Namun namanya masa lalu, masa yang sudah dilewati atau terlewati walaupun cuma satu detik, atau dua detik, sama saja tidak akan bisa dijangkau lagi. Jika dibandingkan, jarak satu detik ke masa lalu akan lebih jauh dibanding jarak dari bumi ke matahari, bahkan ke neptunus, atau ke planet terjauh sekali pun.

Pada akhirnya kita hanya bisa mendekati persamaan-persamaan peristiwa yang terjadi di masa lalu. Dengan cara mengulang peristiwa yang pernah terjadi untuk mendapatkan suasana yang mirip-mirip.

Dalam hati bertanya-tanya apakah kali ini saya akan berhasil menaklukan deadline seperti ketika di industri? Atau kali ini saya akan habis? Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya waktu tidak akan habis. Meski saya berhasil atau gagal untuk menaklukan deadline. Waktu tetap berjalan dan tidak akan habis. Toh, setelah sampai pada deadline, selanjutnya masih ada deadline lagi. Maka hidup pun masih berjalan untuk dihadapi lagi, dan lagi, sampai pada akhirnya hidup saya benar-benar habis.

Orang macam saya tidak selalu bisa menyodorkan hasil yang sempurna. Saya kadang kedodoran memenuhi tenggat, kepayahan mengikuti jadwal hingga megap-megap dihajar oleh apa yang rutin disebut sebagai kelaziman, kebiasaan, dan kenormalan.

Terlebih di zaman yang bergegas seperti sekarang, dipahami dan dimengerti itu sama pentingnya dengan hasil. Jika prosesnya begitu sulit ditakar oleh nalar, hasil sebaik apapun akan selalu berada dalam posisi rentan. Diolok-olok, diejek dan rasa malu sudah barang tentu menjadi hadiah yang bakal diterima jika gagal dalam menepati waktu. Hasil yang sama baiknya pun akan dipandang sebelah mata akibat dari serangkaian keterlambatan yang melengkapinya.

Sekali lagi. “Hidup bukan sehimpun deadline yang harus selalu ditaati.”

Saya akan mengiyakan ucapan itu sembari memelesetkan sebuah sajak: “Mengapa harus seseorang begitu setia pada target dan cita-cita, lebih dari kehidupan dan sebagainya, dan sebagainya?”

Setelah mengiyakan dan mengucapkan pertanyaan aneh itu, tetap saja saya, dan masing-masing dari kita akan kembali berlalu. Dengan menderu. Dan bergegas. Seperti kemarin dan hari-hari yang lain.

Ahh, Sudahlah kerjakan saja dulu pekerjaanmu, yaitu TA-mu itu. Sesuatu tidak akan selesai dengan sendirinya. Persetan deadline.

Lagu Yui pun sebetulnya sudah lama berganti menjadi lagu Smell like teen Spirit. Maka berteriaklah. “A mulatto! An albino! A mosquito! My libido! A denial! A Denial! A Denial!” Keras-keras sampai kamar hampir meledak.

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s