Behind the Scene of Libranie Outche Envirie at Garnisun City

Setahun yang lalu, di bulan April. Teman saya tiba-tiba memberikan sebuah nomor hape milik seorang perempuan. Entah apa maksud dari itu, sampai saat ini kurang jelas alasan apa yang membuat dia sehingga tiba-tiba memberikan 11 atau 12 digit nomor hape perempuan itu kepada saya. Karena waktu itu seingat saya seperti biasa kami sedang tidak serius untuk bicara mengenai apapun. Atau lebih tepatnya kami memang tidak pernah serius bila bicara tentang apapun, terlebih jika itu mengenai perempuan. Waktu itu saya tidak menanggapinya dengan terlalu serius. Walaupun begitu, nomornya tetap saya simpan di kontak dengan nama yang sesuai dengan si pemilik nomor.

Setelah saya menyimpan kontaknya, selanjutnya kami mencari akun twitternya. Tidak sulit mencari akun twitternya karena nama akun twitternya tersebut tidak direka-reka dan menggunakan nama asli. Hal tersebut tentu memudahkan kami untuk menelusurinya. Untuk hal yang satu ini saya juga lupa apa penyebabnya sehingga kami sampai harus repot-repot nyari akun twitternya.

Akun twitter sudah ketemu lalu saya follow, tapi teman saya tidak mau ikut follow. Lalu teman saya menceritakan sedikit tentang bagaimana si perempuan itu. Sedikit yang bisa dia ceritakan karena memang teman saya juga tidak kenal dengan si perempuan itu. Dia cuma bilang pernah bertemu dengan si perempuan itu sebentar, lalu bersalaman, terus sudah. Perkara dia dapat nomor hapenya dari mana pun saya kurang tahu, dan gak mau tahu.

Kira-kira seminggu kemudian sejak saya follow lalu saya minta follbek dengan twitt seadanya. “Teh polbek dong.” Dan akhirnya dia folbek, tanpa membalas twit saya. Tentu penyebabnya karena tidak kenal. Lagi pula untuk apa menanggapi orang yang tidak dikenal. Saya pun sama dari serangkaian menyimpan kontak sampai memfollow dan meminta folbek akun twitter si perempuan itu, saya tidak memiliki alasan kuat untuk melakukannya. Semua berjalan mengalir saja, tindakan-tindakan yang hanya akan berujung sedikit senyum dan kerut dahi jika diingat-ingat. Setidaknya cerita gak penting macam ini bisa saya tulis seperti yang sedang saya lakukan sekarang ini.

Jika penyebab selalu berujung akibat. Maka kejadian pemberian nomor hape perempuan tersebut lebih tepat disebut penyebab dari pada akibat. Pemberian nomor hape di bulan April tersebut menjadi cikal bakal sedikit keisengan saya di ask.fm beberapa bulan ke belakang.

Setelah berbulan-bulan, mungkin hampir setahun saya dan teman saya, lebih tepatnya kami, tidak pernah lagi membahas si perempuan itu. Sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu saya melihat akun si perempuan itu, yang saya folow-folow terus saya minta folbek itu, yang saya gak kenal itu, yang saya gak pernah ketemu itu, yang katanya baik itu, yang sejujurnya saya gak tahu dia siapa itu, yang tidak pernah saya atau kami bicarakan lagi setelah sudah dipolbek itu, ternyata dia sedang membuka akun ask.fm. Ask fm adalah media sosial juga, sama seperti media sosial yang lainnya. Media sosial yang hanya berujung candu kebodohan yang tidak berujung. Sama saja dengan sodaranya, baik itu path, fb, ig, da lain-lain.

Melalui ask.fm dengan niat semaunya dan alasan seadanya saya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak penting kepada akun ask.fm miliknya. Ketika saya pertama kali mengajukan pertanyaan, saya tidak memberitahu terlebih dahulu ke teman saya yang memberikan nomor hape itu. Saya bertanya ngalor-ngidul dengan menggunakan fasilitas sebagai penanya anonim. Dengan anonim dia tidak dapat mengetahui identitas si penanya. Maka dengan leluasa saya bertanya seolah-olah kenal dan sok akrab.

Semakin banyak pertanyaan yang saya ajukan. Semakin konyol pula arah pertanyaan. Namun bukan hanya saya yang menyerang akun miliknya dengan serangkaian pertanyaan. Ada pula akun lain yang sama-sama menggunakan anonim. Apalagi ternyata perempuan itu baru saja menjomlo. Saya tahu informasi ini dari serangkaian jawaban yang dia lontarkan di akun ask.fm nya.  Mungkin karena fans-nya lumayan banyak, atau yang mau ngisenginnya lumayan banyak. Maka akun ask.fm nya mendadak menjadi sangat ramai. Saya jadi seperti sedang berdesak-desakan, berlomba-lomba, untuk mengajukan pertanyaan bahkan gombalan sebaik mungkin agar mendapatkan jawaban yang bagus.

Dari serangkaian pertanyaan yang berlandaskan iseng dan hanya menghasilkan senyum atau sedikit tawa. Ada pula beberapa pertanyaan agak serius yang saya ajukan. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan-pertannyaan yang menyangkut nama. Jadi menarik karena waktu itu saya sedang berada di Bogor. Dan di Bogor pun ada manusia yang memiliki nama yang sama dengan si perempuan yang saya tanyai di ask.fm itu. Mudah sekali menebak bulan lahir dan dia anak urutan keberapa di silsilah keluarganya, hanya dengan memahami namanya. Bila manusia yang di Bogor itu dari namanya saja saya bisa tahu kalau dia itu merupakan anak ke dua dan lahir di bulan September tanpa harus bertanya lagi. Lalu bagaimana dengan yang di ask.fm ini? Apakah ada alasan atau penyebab lain yang berbeda, sehingga dia memiliki nama yang sama? Ternyata tidak, tidak ada alasan unik dari namanya, alasannya sama dengan manusia yang saya jumpai di Bogor itu, yaitu karena dia anak ke dua, dan dia lahir di bulan September. Ternyata jarak ratusan kilo meter tidak membuat perbedaan, alasanya tetap sama. Tidak ada yang unik. Setidaknya untuk dua nama belakangnya. Perlu diketahui nama si perempuan itu terangkai dari tiga nama. Lalu bagaimana dengan nama depannya? Kukira seperti nama jin. Yup, masih ingat dengan jin yang tinggal di dalam kerang pada sirkom di masa lalu? Nah, namanya semacam itu. Nama si aktris pemeran jin itu. Yang cantik itu. Yang sekarang sudah tua itu.

Lama-lama semakin banyak pertanyaan yang saya ajukan. Sampai akhirnya saya menyadari dia sudah menjawab hampir sekitar dua ratusan pertanyaan dari saya. Sebetulnya jumlah pertanyaan sebanyak itu hanya perkiraan saya saja. Bisajadi lebih. Tapi yang pasti memang sudah terlalu banyak. Terlalu banyak saya berbasa-basi dengan pertanyaan. Dan sudah entah berapa kali juga dia menyuruh saya menonaktifkan anonim untuk memberi tahu identitas saya. Akhirnya saya buat “off” itu anon dan akhirnya dia dapat melihat nama akun ask.fm milik saya. Yang mungkin sejenak akan membuat dia merasa percuma menyuruh saya menonaktifkan anonim karena nama akun saya adalah “off_anon”. Dengan emot hoream dia balas pertanyaan saya. Sontak saya tertawa kecil melihatnya.

Singkat cerita, akhirnya saya ceritakan tentang perihal tanya jawab ini pada teman saya yang dulu memberikan nomor hape si perempuan itu kepada saya. Lalu saya menyuruhnya untuk melihat pertanyaan-pertanyaan konyol yang saya ajukan. Dan hasilnya. Ya, ada hasilnya, perilaku idiot macam ini pun harus ada hasilnya. Hasilnya adalah kami ketawa-ketawa setelah membacanya. Lalu scroll-scroll semua pertanyaan yang saya ajukan. Semua sampai dalam, sampai habis.

Selanjutnya apa? Selanjutnya adalah teman saya itu yang jadi korban atau lebih tepatnya tumbal untuk melanjutkan tawa-tawa oleh sebab kejahilan lainnya yang masih mungkin bisa digali melalui ask.fm ini. Tapi bila diingat-ingat lagi sebetulnya yang memberikan ide jahil ini justru adalah teman saya sendiri, bukan saya. Saya juga gagal paham kenapa dia memiliki ide jahil yang justru berujung dirinya yang dijahili.

Ketika itu saya sedang pergi lagi ke Bogor untuk sementara waktu. Ketika saya sedang di Bogor teman saya itu, yang dulu menggunakan kacamata itu, dan sekarang sudah tidak itu, yang lumayan tinggi itu, yang saya angkat jadi pak presiden itu, memberitahukan bahwa dirinya akan pergi ke toko buku dengan temannya, yang kebetulan teman saya juga, sebut saja si setun. Lalu saya menitip sebuah buku, yaitu buku karya penulis idola saya yang baru saya tahu satu bulan sebelumnya berkat si mang eko maung.

Buku yang sudah dibelikan oleh teman saya tersebut dijadikan tawanan, dan teman saya mengancam akan memberikannya ke si perempuan itu, yang sering saya tanyai di ask.fm itu. Saya diminta untuk mengambilnya sendiri ke sana apabila sudah kembali dari Bogor. Entah mengapa mendengar ancaman itu saya malah senang. Lalu saya mempersilahkan dia melakukannya. Tapi kenyataannya sepulangnya saya dari Bogor buku itu masih saja aman berada di situ, di teman saya, belum ke mana-mana.

Semakin aneh. Alih-alih menagih buku, saya malah menagih janjinya untuk menjahili saya dengan cara memberikan bukunya ke si perempuan itu, yang tidak tahu siapa itu. Setelah sedikit dipaksa-paksa akhirnya dia mau, dan sampailah buku di sana di tangan si perempuan itu, yang katanya kadang berkerudung itu. Sebelum sampai di sana buku sudah saya hatami dulu. Paralel dengan proses sampainya buku di si perempuan itu. Saya pun mengajukan pertanyaan lagi melalui ask.fm yang mengarah pada tanda-tanda kehadiran buku di sana. Pada akhirnya buku sudah sampai di sana, lalu saya konfirmasi dan ternyata benar. Hal selanjutnya yang perlu saya tahu adalah apakah buku itu dia baca atau tidak? Jika tidak, maka saya akan tahu sedikit dia orang macam apa. Begitupun jika baca, sedikit banyak saya akan tahu juga dia orang macam apa.

Secara tidak langsung itu juga bisa berarti proses mengenal, saling mengenal memang tidak melulu harus mengetahui nama. Btw, seingat saya ketika buku sudah sampai di tangan dia, dia belum tahu nama saya. Mungkin juga dia bisa mengetahui sedikit, sedikit sekali tentang saya melalui buku itu. Jika peka, dia mungkin akan berpikir kenapa saya memberikan buku novel itu, dengan judul itu. Novel yang berjudul Jalan lain ke mana? Ke Tulehu. Nyasar ke mana? Ke Cimahi. Kenapa saya tidak memberikan buku lain? Misalnya buku Dilan, yang katanya lagi ngehits itu, yang isinya cinta-cinta itu. Yang saya agak malu bacanya itu. Yang saya juga suka ceritanya itu. Yang akhirnya banyak yang ngaku-ngaku Dilan teh aing banget itu.

Sampai sekarang mungkin sudah bulan ke dua buku saya berada di sana. Belum saya ambil, karena gak mau. Mungkin buku itu masih di situ, atau mungkin sudah ke mana, saya kurang tahu. Sejujurnya saya tidak pernah berniat memberikan buku itu. Bukan pelit, tapi memang dari awal rencananya begitu. Itu buku untuk diberikan namun untuk kembali. Lalu apa? Lalu kembali bersama cerita selama buku itu ada di sana. Dan cerita ini adalah hasil. Hasil dari apa yang terjadi. Yang mungkin kapan-kapan saya akan ceritakan bahwa dulu saya pernah ini, pernah itu, di masa lalu. Dan salah satunya adalah ini. Jahil yang gak segimana sih, tapi lumayan lah. Mungkin nanti atau kapan-kapan saya akan sedikit tersenyum mengingat-ingat cerita ini.

Seperti halnya saya mengingat kejahilan semasa dulu. Ketika menelpon seorang PMR sampai 200 kali dan ganti nomor, ketika dulu saya menggunakan sms gratis dari kartu tri untuk membooming hape orang sampai full message terus menerus, ketika saya membuang sepeda teman saya ke dalam gerobak sampah, ketika kodok jadi gepeng di dalam tas teman saya yang berisi banyak buku, ketika kaos olahraga teman saya terbakar oleh bola api, ketika gorden sekolah hangus terbakar, dan juga ketika saya cerita ini mudah-mudahan orang-orang harusnya ketawa. Dan satu lagi ketika satu sekolah SMK di cimahi kebingungan mencari kambing hitam karena tiba-tiba ada kabar PR dan juga ulangan dadakan untuk esok hari yang padahal gak ada. xD

Bersambung…

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Behind the Scene of Libranie Outche Envirie at Garnisun City

  1. Pingback: Behind the Scene of Libranie Outche Envirie at Garnisun City on Force Majeure Mode | HEMISPHERES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s