Behind the Scene of Libranie Outche Envirie at Garnisun City on Force Majeure Mode

Cerita Sebelumnya

Nah, sampai di mana tadi? Sampai di Cimahi, lurus terus, belok kiri menuju Kota Baru, lalu berhentilah saya di mesjid Al-Irsyad yang bentuknya kotak, bagus, dan katanya hasil rancangan Ridwan Kamil. Di sana adem seperti mesjid-mesjid lainnya. Bedanya, di mesjid ini mimbarnya dikelilingi kolam, belakang mimbarnya bolong, maksud saya dibelakang mimbarnya itu tidak ada temboknya. Dan oleh karena sebab tidak ada temboknya saya jadi bisa melihat pemandangan di luar sana sambil ngadem, sambil tidur, sambil mainin hape.

Itu saya memang sampai di sana tadi sore untuk ngabuburit dan juga membuang-buang bahan bakar bersubsidi ini. Mudah-mudahan harganya naik lagi. Sedangkan petualangan saya di dalam ask.fm sudah sampai force majeure. Semua kegiatan saya dalam dunia per-ask.fm-an dihentikan sementara sampai waktu yang sudah ditentukan. Iya, sudah ditentukan setidaknya sampai detik ini.

Bagaimana dengan buku? Buku saya yang saya pinjamkan itu mudah-mudahan masih di sana. Atau mungkin sudah ke mana. Tidak apa-apa lah. Sebetulnya saya sudah meminta teman saya yang memiliki ide memberikan buku ke si perempuan itu untuk mengambilnya. Tapi dia tidak mau. Mungkin karena malu, atau memang malu-maluin. Dia malah balik menyuruh ke saya untuk mengambilnya sendiri. Biar apa? Biar ketemu. Mungkin juga, biar liat. Mungkin juga, biar tahu. Atau mungkin, biar kenal.

Mungkin ada benarnya juga, jika saya mengambil bukunya secara langsung saya akan bertemu, lalu melihat, lalu tahu, dan lalu mengenal tentang si perempuan itu. Karena saya pun paham, mengenal bukan cuma pekerjaan tangan untuk terus-terusan bertanya melalui pertanyaan-pertanyaan yang saya ketik. Mengenal itu juga pekerjaan kaki, tangan, mata, telinga dan akal sehat. Yup, akal sehat. Andai nanti saya bertemu dan mungkin sampai ke tahap mengenal. Akal sehat lah yang akan menuntun saya dan juga dirinya untuk melakukan tindakan selanjutnya. Antara cerita konyol ini tamat atau bersambung.

Sebelum saya melakukan force majeure dalam dunia per-ask.fm-an ini, ada kejadian yang rasa-rasanya perlu saya tuliskan di sini. Jadi begini, ketika saya sedang bertanya ngalor-ngidul gak penting dan tentu tidak jelas arah pertanyaannya ke mana. Mungkin sampai bisa menyebabkan si perempuan itu sedikit merasa malas untuk menjawab pertanyaan. Terlihat dari jawaban yang tidak seasyik biasanya. Namun, justru oleh sebab yang seperti itu saya jadi ingin membuatnya lebih kesal lagi. Pertanyaan yang saya ajukan semakin konyol sampai akhirnya teman saya muncul di ask.fm dan ikut-ikutan bertanya ke akun si perempuan itu, dengan polosnya dia mengucap mohon maaf. Mohon maaf itu maksudnya karena besok akan memasuki bulan puasa, sehingga mungkin teman saya merasa harus minta maaf. Saya juga kurang paham maksud dia minta maaf keperempuan itu untuk apa. Yang jelas dia bertanya setelah sederet pertanyaan konyol yang saya ajukan. Dan bodohnya dia menunjukan nama akunnya yang membuat si perempuan itu bisa membaca nama akun milik teman saya tersebut. Oleh karena sebab itu dia jadi divonis sebagai tersangka oleh si perempuan itu. Dia divonis menjadi tersangka yang selalu menjahilinya di ask.fm. Kira-kira si perempuan itu bilang begini “Ini lupa di off anon, apa gimana? Ha ha ha.” Atas kejadian itu saya seperti merasa perlu mengucap “Lebok” di dalam hati.

Lama berlalu, ternyata saya baru menyadari kalau anon yang dulu berdesak-desakan bersama saya mulai berkurang, atau memang benar-benar menghilang. Saya mulai merasa sendirian dalam melakukan pertanyaan ke akun ask.fm si perempuan itu. Berbeda dengan dulu, dulu saat nama saya, hanya nama depan, dibocorkan oleh teman saya. Teman saya yang sebelumnya juga terlebih dahulu saya bocorkan namanya di ask.fm. Namun tidak di off anon hanya untuk main perang identitas saja biar teman saya itu merasa deg-degan dan saya juga. Namun nyatanya tidak terjadi apa-apa. Biasa saja. Kecuali, blog saya. Setelah nama itu bocor di ask.fm, blog saya mendadak kebanjiran pengunjung dan booming. Pengunjung blog saya tiba-tiba meningkat sampai dua, tiga kali lipat selama dua hari. Dan kembali normal di hari ke tujuh. Entah ada kaitannya atau tidak, tapi waktu kejadian yang hampir bersamaan membuat saya dan teman saya menjadi menerka-nerka penyebabnya. Dan mengait-ngaitkan dengan kejadian ini. Hal ini membuat aksi tanya-tanya semaunya ini jadi tidak seru lagi.

Sampai akhirnya muncul anon lain yang katanya temannya teman saya. Tapi perlu diketahui bahwa temannya teman saya itu bukan teman saya. Aha, akhirnya ada juga yang membuat ask.fm ini jadi sedikit seru lagi. Lah, apanya yang seru? Sebetulnya enggak, cuma karena tanggung begitu ya sudah dibikin seru aja. Temannya teman saya itu agak aneh. Dia bertanya di ask.fm dengan metode kadang-kadang. Maksudnya kadang dianon kadang enggak. Ya sudah ketika dia bertanya sesuatu. Saya sambung saja ke pertanyaan lain yang tujuannya mengarah ke pertanyaan yang agak malu-maluin. Tentu malu-maluin buat dirinya. Dan akhirnya dia ngilang lagi.

Menghilangnya dia, anon yang padahal temannya teman saya itu, yang saya gak tahu dia siapa itu. Bukan sekonyong-konyong karena pertanyaannya selalu saya sabotase. Mungkin juga karena si perempuan itu tiba-tiba bercerita tentang seseorang yang membuatnya bahagia cuma karena tulisan di permen. Bukan cuma sih, seperti yang sudah saya jelaskan di atas tadi. Mengenal itu juga perjalanan kaki, tangan, mata, telinga dan akal sehat. Bukan melulu pekerjaan tangan yang cuma bisa ketik ini-itu. Jadi adalah hal wajar bila terjadi hal demikian. Tanpa mengenal ribuan kata-kata yang terangkum dalam buku dan berisi cerita panjang pun bisa kalah hanya dengan satu, atau dua kata yang tertulis dibungkus permen. Senyumin aja.

Akibat dari cerita permen itu saya pun jadi olok-olok teman saya. Saya dibilang ditikunglah, diapalah, bodo amat. Memangnya saya habis ngapain? Sialannya itu ketika saya sedang lari sore-sore dilapangan depan gedung sate bersama dua orang teman saya. Teman satu dan teman dua. Teman satu itu yang sudah banyak saya ceritakan itu, yang memberikan buku itu, yang bilang mohon maaf sebelum puasa itu, yang lumayan tinggi itu, dan yang saya panggil pak presiden itu. Sedangkan teman dua adalah teman saya yang ikut mengantar teman satu untuk membeli buku selagi saya di Bogor itu, yang sebut saja si setun itu.

Di lapangan gasibu depan gedung sate setelah lari sore-sore kami duduk-duduk di tangga menuju lapang untuk bersantai. Alih-alih bersantai, teman-teman saya malah menelpon si perempuan itu melalui akun line yang entah dia dapat dari mana. Dan saya tiba-tiba dipegangi secara paksa dan lalu teriak-teriak seperti orang yang sedang dirampok. Waktu itu banyak orang, alhasil malu-maluin. Badan pun pegal-pegal seperti habis dibegal. Beruntung telepon nya gagal mulu. Dan akhirnya gak jadi.

Eh, tapi itu cerita di lapangan barusan itu, betul gak sih? Inget-inget lupa soalnya he..he..he..

Selanjutnya semakin bingung. Potensi Iseng dan tawa di ask.fm rasa-rasanya sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah habis ditambang. Si perempuan itu pun semakin jutek. Dia pun mengiyakannya, mengakuinya. Dia bilang, kira-kira begini. “Cewek jutek itu, adalah orang yang akan setia pada pasangannya. Maka bla.. bla.. bala..bala.. gehu.. apa ya saya lupa.” Intinya begitu.

Menurut dia, cewek jutek itu adalah tanda bahwa nantinya dia akan setia pada pasangannya. Kalo dipikir-pikir betul juga. Tapi juga tidak sepenuhnya benar. Ketahuilah kecuekan itu adalah hak segala bangsa. Namun, cuek juga tidak baik. Mungkin sebagian orang beranggapan jika manusia yang baik kepada setiap orang itu sama saja dengan orang jahat. Dia seperti main-main dengan kebaikannya. Tapi apakah baik pada orang tertentu dan masa bodo pada orang banyak bisa dikatakan sebagai tindakan yang baik?

Pada akhirnya semua kembali pada sudut pandang kita masing-masing. Dengan niat masing-masing, dan maksud masing-masing, Dan ketahuilah setiap manusia memiliki lakonnya masing-masing.

Sejak ask.fm sudah gak rame lagi. serangkaian kekonyolan saya di ask.fm akhirnya diputuskan untuk force majeure. Force majeure dilakukan karena sudah lumayan merasa bosan. Bagi saya, rasa bosan mewakili sebuah fase dalam hidup saya ketika akal sehat sudah mulai menggantikan emosi jiwa yang dulunya berkobar-kobar terhadap Indonesia dan Sepakbolanya. Dan juga isengin perempuan itu tentunya.

Terima kasih, untuk Saya, Teman saya, Temannya teman saya, Si setun dan Si perempuan itu.

In The End it doesn’t even matter…..

Wassalam.. xD


Catatan kaki:

Librani Outche Envirie dalam bahasa Indonesia adalah hak dan kebebasan dalam hal berseloroh. Berseloroh berasal dari kata seloroh yang artinya: lucu atau lelucon, senda gurau, kelakar. Berseseloroh berarti bersenda gurau, berkelakar atau berolok-olok.

Sedangkan garnisun (dari bahasa Belanda garnizoen, sendirinya dari bahasa Prancis garnison) adalah suatu korps pasukan yang ditempatkan di suatu benteng untuk bertahan dari musuh yang dapat menyerangnya.

Di Indonesia kota Garnisun disematkan pada kota Cimahi. Ulasan lengkapnya ada di sini.

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Behind the Scene of Libranie Outche Envirie at Garnisun City on Force Majeure Mode

  1. Pingback: Behind the Scene of Libranie Outche Envirie at Garnisun City | HEMISPHERES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s