Hey Orang Asing

“Switch the light off welcome to the night. Whats the problem not gonna make it right?” One OK Rock

Terlalu banyak berpikir hanya akan membuat rasa cemas semakin berlebihan.

Jadi…

Rimarrai al Sicuro in Mia Portata

Rimarrai al Sicuro in Mia Portata

Dear My Stranger…

Saya tidak akan pernah tahu ke mana arah hidup ini. Tapi kabar mengejutkan yang saya dengar tentangmu kemarin malam membuat fragmen-fragmen ringkas masa lalu berkelebat sepanjang hari… sepanjang siang. Pada salah satu retospeksi itu, muncul satu kesimpulan: Jika ada banyak berkah yang tidak saya syukuri, salah satunya pasti adalah kamu!

Pengakuan, tentu tidak akan berkurang artinya hanya karena ia datang terlambat. Tapi, saya ragu, masihkah ada artinya mengucap syukur saat berkah itu sudah menjauh?

Jangan kamu buruk sangka dulu ihwal kata-kata “berkah sudah menjauh”. Itu bukan do’a yang buruk. Kata-kata itu lebih berarti sebagai satu pemahaman sederhana tentang bagaimana nasib bergulir dan bergerak. Pada akhirnya, memang, ada sehimpun jarak yang kian melebar dengan kecepatan yang sebenarnya lambat, tapi pasti tak bisa kita tolak.

Saya selalu berpikir bahwa kamu pasti pernah dekat dengan sejumlah lelaki pada masa-masa yang berbeda. Kalian akrab, mungkin sering jalan bersama, nonton bersama atau makan bersama.

Sedangkan dibanding mereka saya adalah orang yang tak akan pernah benar-benar kamu kenal, saya adalah orang yang akan terus dianggap “asing” di kehidupanmu. Saya pernah bilang kepadamu waktu itu meski hari ini pada akhirnya kita bisa jalan-jalan berdua belum tentu kita akan saling mengenal. Kita bahkan belum bisa menjadi teman. Masih terlalu banyak rahasia yang saling memunggungi di atara kita. Tapi di hari itu biarlah kita nikmati dulu rencana yang sudah terlanjur kita buat. Meskipun nanti sepulang dari sini saya akan kembali jadi orang yang “asing” untukmu.

Saya sadar kesempatan saya untuk memperkenalkan diri dan mencoba untuk tidak lagi menjadi “asing” untukmu amatlah sedikit. Terlebih saya tidak pernah punya kehendak untuk mencoba mengenal atau pun membongkar rahasia yang masih banyak kamu tutup-tutupi. Mungkin butuh waktu lebih dari yang saya punya sekarang ini untuk bisa lebih jauh mengenalmu.

Atau mungkin berapa pun waktu yang saya punya untuk mengenalmu tidak akan pernah cukup untuk membuat saya tidak lagi jadi yang “asing” untukmu. Karena mungkin sampai kapan pun kita memang tak kan pernah bisa mengenal seseorang sebaik kita mengenal diri sendiri.

Misal, yup misal garis tangan mengharuskan kita menjadi benar-benar saling kenal kompak dan akhirnya berhubungan lebih jauh sekali pun, kita tetap tidak akan bisa mengenal satu sama lain seutuhnya. Pada hal tertentu saya akan kembali menjadi orang asing buat kamu, begitu pun kamu juga akan kembali menjadi orang asing untuk saya. Bahkan kendati kita selalu berdekatan setiap detik sekali pun.

Sudah menjadi takdir, masing-masing orang tidak mungkin mengenal orang lain sebaik mengenal diri sendiri. Sebab setiap orang selalu punya rahasia kecil yang tetap disimpannya rapi disebuah pojokkan sunyi. Entah di mana kesunyian itu. Bisa dalam hati. Atau mungkin tersimpan rapi dalam catatan harian yang lusuh.

Selalu akan ada rahasia kecil yang memang bukan untuk kita bagi. Dalam soal ini, mungkin, kita tidak akan pernah bisa berbagi. Ini bukan soal mau atau tidak, sebab bila itu nasib. Nasib memang tidak bisa dibagi betapa pun ingin kita membaginya. Nasib adalah kesunyian masing-masing.

Kita berdua adalah dua orang asing yang mungkin coba saling mengenal. Saya mungkin adalah orang asing yang mencoba mengetahui lapis demi lapis identitasmu. Dari mulai namamu, makanan kesukaanmu, hobimu, zodiakmu, film favoritmu, musik kesukaanmu, tempat kuliahmu, hingga jumlah mantan pacarmu. Tetapi, sekali lagi, pada akhirnya kita akan sadar bahwa ada sejumlah hal yang sebaiknya tidak kita ketahui. Bukan karena saya tidak ingin mengetahuinya, tetapi mungkin karena saya tahu memang akan lebih baik jika beberapa hal itu tetap menjadi rahasiamu.

Sekarang, coba bayangkan bagaimana jika perjumpaan kita beberapa bulan lalu itu adalah perjumpaan pertama kita sekaligus yang terakhir. Bukan karena kita tak mau lagi bersua, tetapi bayangkan saja seumpama ternyata saya harus mati hari itu. Apa yang akan kamu lakukan my Stranger?

Di parkiran sebuah rumah makan di kota hujan, di suasana sore yang tak begitu riuh, kamu bilang ke pada saya bahwa akan menjadi sesuatu yang “mengesankan” jika seseorang yang baru sekali kita jumpai ternyata ditakdirkan langsung mati.

(saya dua kali hampir mati dalam perjalanan pulang dari kotamu; pertama saya hampir mati kedinginan saat menembus hujan tengah malam di puncak, dan yang ke dua saya hampir mati terlindas dua bus ketika rantai motor saya putus lalu tersangkut di celah roda yang mengakibatkan roda itu terkunci dan berhenti berputar secara paksa.)

Saya mengingat ucapanmu itu. Dan saya terkesan. Apa kah kamu sadar, bahwa memilih menggunakan kata “mengesankan” ketimbang “menyedihkan” saat kau membayangkan jika seseorang baru pertama kamu jumpai tiba-tiba direnggut nyawanya? Kenapa memilih kata “mengesankan” ketimbang “menyedihkan”? Adakah beda antara “mengesankan” dan “menyedihkan”? Dan apa konsekuensinya?

Saya tak tahu jawabannya, mestinya kamu lebih tahu jawabannya karena kamu sendiri yang mengucapkannya. Tetapi biarlah itu menjadi rahasia kecilmu.

Besoknya, setelah kemarin sore kita jalan berdua dengan sedikit bercakap. Saya mengirimu pesan pendek yang sama yang sudah biasa kamu terima sebagaimana sandek-sandek (iseng) dengan pertanyaan konyol yang sempat saya kirimkan sebelumnya. Sebelum kita pada akhirnya benar-benar jalan-jalan berdua.

Beberapa menit kemudian kamu membalas dengan sepucuk pesan pendek juga. Dengan pesan yang isinya “liat aja nanti, kita pasti saling kenal. Kalau sudah nyaman.”

Saya tidak begitu mengerti apa yang kamu maksud dengan nyaman. Apakah nyaman sama dengan aman? Apa merasa aman juga bisa diartikan dengan nyaman? Jika merasa aman saja belum cukup untuk membuatmu nyaman, faktor apalagi yang bisa membuatmu nyaman?

Ternyata masih banyak hal yang belum saya mengerti darimu, seperti juga masih banyak hal tentang saya yang belum kamu pahami. Lagipula, mungkin kita tak sedang mencoba saling memahami. Mungkin perjumpaan dan percakapan singkat yang kita gelar sore itu sekedar siasat untuk menikmati dan menghabiskan senja dengan cara tak biasa.

Oke baik, saya coba pahami isi dari pesan pendek yang kamu kirim. Tapi saya punya dua pertanyaan untukmu: Bisakah kamu nyaman dengan sesuatu yang asing? Dan apakah pernah kamu merasa nyaman dengan sesuatu yang asing?

Kalau kamu menanyakan hal yang sama kepada saya, saya akan jawab: “Yup, saya pernah merasa nyaman dengan sesuatu yang asing. Saya juga sering merasa nyaman dengan sesuatu yang masih asing.”

Saya bisa merasa nyaman dengan sesuatu yang asing karena memang kita sebenarnya hidup di kehidupan yang awalnya asing buat kita. Bukankah sebelumnya kita dilahirkan ke dunia yang belum kita kenal? Dan bukankah kita juga belum mengenal sepenuhnya dunia? Seperti kita juga tidak tahu akan seperti apa hari esok, lusa, minggu depan, bulan depan, dan tahun depan.

Masa depan dan hari esok adalah sebuah terra incognita, sehamparan area yang tak teraba, tak terjamah, dan hanya bisa dikira-kira. Sebagian tersebar dari kita, termasuk aku dan kamu barangkali, seringkali merasa cemas pada apa yang akan terjadi esok. Kita kadang merasa ngeri pada apa yang akan terjadi lusa.

Rasa cemas itu tak mungkin kita kikis habis karena kecemasan sebenarnya justru menjadi kompor yang bisa membakar kreativitas manusia. Kita adalah mahluk yang diberi anugerah memiliki kecerdasan dan mempunyai kemampuan untuk memikirkan waktu, masa lalu, masa kini dan masa depan. Tetapi kecerdasan itu, kemampuan kita untuk memahami masa lalu, masa kini dan masa datang itulah yang justru melahirkan rasa cemas.

Orang-orang yang selalu tergeragap tiap kali menghadapi sesuatu yang asing adalah orang-orang yang tidak siap hidup. Kesiapan untuk hidup bukan hanya mengandaikan kesiapan kita dalam menyusun rencana dan agenda, tetapi juga meniscayakan kita untuk selau bersiap dengan sesuatu yang mengejutkan, bersiap dengan sesuatu yang datang tiba-tiba, dengan sesuatu yang datang tanpa warta.

Karena itulah kita mengenal dan membuat apa yang sebut agenda, jadwal kerja, schedule, ambisi, cita-cita dan rutinitas. Semua itu adalah kreativitas kita untuk membuat masa depan yang tak teraba, gelap dan mungkin dipenuhi kejutan menjadi lebih sederhana. Semua itu adalah cara kita untuk membuat masa depan yang tak terjamah itu menjadi bisa sedikit kita kendalikan.

Kita sebenarnya selalu bersandar pada apa yang mungkin kekal dan mungkin tak kekal. Kita bersandar pada mungkin. Kita bersandar kepada angin.

Apakah dengan begitu randezvous kita sore itu menjadi sesuatu yang sia-sia?

Hmmm… mari kita jawab sama-sama. Tidak harus hari ini. Mungkin esok atau lusa. Atau mungkin bulan depan. Atau tahun depan. Sekarang, kita nikmati saja apa yang terjadi. Termasuk menikmati orang asing dan rasa asing, sebelum akhirnya kita mungkin mengambil sikap untuk menganggap semuanya hanya sekadar kenangan.

My stranger, begitulah kira-kira.

Begitulah sampai akhirnya ahhh syudah lah.


 

Satu demi satu. Sedikit demi sedikit. Ada jarak yang semakin merenggang dengan kecepatan yang sebenarnya lambat namun tak kan bisa kita tolak. Sampai akhirnya…

.

Waktu yang cuma sesaat bukan hal yang percuma

Kemarilah,

Ada satu kata yang tidak akan bisa dilupakan

goodbye… good goodbye…” 🙂


LOVE IS A DANGEROUS GAME TO PLAY

Hearts are made for breaking and for pain.

I’m selfish and I’m cold.

I promise you I said:

“Never again!”

“Never again!”

“No never!”

 

Tulisan naon sih -___-” DASAR SENGKLEK 😀

 

the shape of love is the same as your heart is it doesn’t matter who you are, so tell me my heart is the same as yours is…


“Hey Orang Asing…..” 🙂

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Hey Orang Asing

  1. Pingback: Rantai Putus | HEMISPHERES

  2. Pingback: Menembus Hujan Deras | HEMISPHERES

  3. Pingback: Memilih Nasib | HEMISPHERES

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s