Memilih Nasib

“Ada tiga tanda nasib di hidupmu: padanya riwayatmu dipertaruhkan, padanya -mungkin- biografi kita ditentukan”

Ada banyak berkah yang tak disyukuri, banyak ke sia-siaan yang kutelan. Mungkin salah satunya ada di antara ke tiga nasib ini.

Kekeuh melibatkan sedemikian hal yang irasional (tahu apa yang paling irasional di muka bumi?) ke dalam sebuah pertaruhan hanya akan membuat perjudian semakin sulit.

Pada akhirnya hanya akan ada satu nasib yang dijalani. Tidak perlu menyesal di kemudian waktu. Rasa sesal hanya akan membuat hidup terasa pendek. Hidup terlalu pendek untuk dibebani sederet penyesalan.

Jika lusa, besok, atau lima menit lagi sesal itu datang. Baca keras-keras kalimat sakti ini berkali-kali “HIDUP YANG TAK DIPERTARUHKAN TAK KAN PERNAH DIMENANGKAN!”

*****

Sederet paragraf di atas adalah penggalan dari tulisan-tulisan Zen RS yang saya susun sedemikian rupa hingga dirasa cukup mewakili rasa bimbang saya saat itu. Tulisan itu lalu saya pakai untuk mengisi caption salah satu foto yang saya upload di instagram.

Di dalam foto tersebut nampak seorang anak muda yang sedang duduk membelakangi kamera di ujung tebing yang lumayan tinggi sambil mengacungkan gitar dengan dua tangan ke udara. Entah ada hubungannya atau tidak tapi dalam benak saya hanya foto itulah yang dapat mewakili caption tersebut. Terbalik memang, di mana biasanya caption lah yang dibuat untuk menyesuaikan dengan apa yang nampak di dalam foto.

“Ada tiga tanda nasib di hidupmu”, Hidupmu yang dimaksud di sini tentu saja bukan orang lain, melainkan merujuk pada diri saya sendiri. Saya saat itu memang sedang dilanda kebingungan karena di hadapkan ke pada tiga pilihan. Tiga pilihan yang tidak bisa sembarang. Orang bilang hidup adalah pilihan, tentu saja dengan terus memilih sepanjang hidup dan menjalani apa yang sudah terlanjur kita pilih. Kita akan terus memilih sampai akhirnya kita akan tahu di ujung waktu dampak dari apa yang sudah kita pilih.

November lalu, setelah bulan Oktober yang sedikit menyebalkan saya ditodong untuk memilih jalan hidup yang tentu saja semua ada konsekuensinya. Ada tiga kesempatan melanjutkan karir yang datang hampir bersamaan. Sebagai orang yang baru dua bulan lulus kuliah ketika itu, tawaran semacam ini tentu merupakan berkah yang perlu disyukuri.

Namun memilih dengan menimbang-nimbang apa yang akan kita dapat bukanlah perkara mudah. Memilih adalah keputusan yang terlebih dahulu perlu dipikir matang-matang. Pertimbangannya bukan melulu tentang harta, tahta, dan wanita. Ada hal lain yang sama pentingnya setidaknya dari perspektif jalan berpikir saya yang menurut saya akan baik bagi saya.

Saya tidak mau memungkiri bahwa uang adalah hal penting, maka berkarir di tempat yang sudah sangat mapan adalah hal yang akan sangat terdengar membanggakan. Apabila saya berkesempatan berkarir di tempat semacam itu, kelak saya akan dengan sangat percaya diri jika harus menjawab sebuah pertanyaan “kerja di mana nih, sekarang?” oleh seorang perempuan yang mungkin akan saya kenal.

Saya juga tidak mau memungkiri bahwa “dia si (asing)” juga masuk ke dalam pertaruhan hidup ini. Hal ini adalah yang paling irasional. Mungkin sebab itu pula di awal November lalu saya mau jauh-jauh datang ke sana untuk memenuhi sesuatu yang sebetulnya bukan lagi sebuah keharusan. Saya bisa saja menolak untuk datang saat itu karena sudah tidak ada lagi keterikatan antara saya dan mereka yang membuat saya harus bertanggung jawab atas hal yang bukan lagi jadi urusan saya. Tapi berpamitan pada orang yang sudah pernah saling beririsan ingatan baik adalah salah satu bentuk hormat saya. Hal itu juga sebagai tanda bahwa kalian ada artinya di dalam bab perjalanan hidup saya yang katanya akan singkat ini.

Pada akhirnya hanya ada satu nasib yang bisa saya dijalani. Dan dengan pemikiran yang matang saya memilih untuk ada di sini, karir yang saya jalani hari ini, detik ini, saat ini. Alhamdulillah, sejauh ini saya masih merasa nyaman dan bisa menikmatinya.

Mungkin, suatu saat nanti akan ada rasa sesal yang menjemput. Ketika saya iri melihat orang-orang di sekitar sudah jauh lebih sukses, atau ketika si “asing” sudah bergandeng dengan si “mapan”, sedangkan saya hanya mampu menjadi bunga di atas pasir. Ketika sesal itu benar-benar datang saya sudah siap dengan kalimat sakti yang akan saya ucapkan berkali-kali, yaitu tagline blog lawasnya si pejalan jauh Zen RS “Hidup yang tak dipertaruhkan tak kan pernah dimenangkan!” yang juga sebetulnya tak kan pernah dikalahkan hmmm..

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan, Tak Berkategori and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s