Notes and Words

Membaca kembali buku yang sudah lama tak dibaca jauh lebih bermakna untuk membuka ingatan ketimbang mengenang rasa coklat yang sudah lama lenyap menjadi tinja entah ke mana. Oleh sebab itu harapan tentang ingatan yang tak boleh lenyap lebih bisa dititipkan pada berbiji-biji buku yang dihadiahkan tinimbang berbatang-batang coklat yang cepat leleh di lidah.  

Selain setumpuk kenangan yang kadang manis tapi mungkin pula pahit, saya harap hal berkesan yang bisa saya “wariskan” pada sejumlah nama yang (pernah) mesra dengan saya justru adalah berbiji-biji buku bukan coklat, atau pun makanan lain, seperti kwetiau misalnya.

Buku yang saya “hibahkan” memang tidak lebih banyak dari coklat yang pernah saya hadiahkan. Saya bisa menghibahkan coklat begitu saja, tanpa alasan. Sesekali sebagai hadiah ulang tahun, atau hanya untuk meredakan pertengkaran. Oleh-oleh yang selalu saya bawa pun seringkali adalah coklat, biasanya coklat compound yang mudah saya dapatkan di mini market.

Sedangkan buku hanya saya hibahkan sesekali saja. Padahal buku lah yang lebih mampu mengikat. Andai dulu saya lebih banyak menghibahkan buku. Di situ ada suasana “kefanaan” (tentang yang sudah menghilang, mungkin sudah mendiang), ada suasana “kerinduan”, tapi pada saat yang sama semuanya sudah “raib”, bukan hilang tak berjejak, melainkan “raib” karena semuanya akan bersalin rupa atau bermetamorfosa atau ber-reinkarnasi atau mungkin sudah mengalami lompatan kualitatif menjadi “buku yang tersimpan manis dalam rak buku”.

Tentu saja “kita” tak pernah benar-benar menjelma menjadi buku laiknya Malin Kundang yang menjadi batu. “Buku yang tersimpan manis dalam rak buku” tak lebih sebagai sederet tanda-tanda yang menghubungkan sosok “aku” dan “mereka” yang pernah ada kemudian meniada.

Di situ buku tak sekadar menjadi berhelai-helai kertas yang dibasahi tinta, tapi juga telah menjelma menjadi “kenangan”.

Jika coklat terlalu mudah terlupakan mungkin buku menjadi salah satu (atau mungkin memang satu-satunya) medium yang bisa mengekalkan jejak saya dalam kehidupan dan ingatan mereka.

Yup, lebih baik buku yang mengekalkan saya. Pertama, selain sebelumnya selalu saja coklat saya memang tak pandai memilih barang untuk dijadikan kado. Saya tak tahu menahu soal parfum, baju, sweater, dan barang-barang sejenisnya. Pernah sekali saya keluar masuk toko dan mall untuk mencari kado. Hasilnya nihil. Saya tak cukup cermat dan –mungkin—tak cukup berbakat mencari barang-barang macam itu. Kedua, saya tak cukup memiliki banyak uang, terlebih selama masa kuliah. Jika ada uang, lebih sering saya belikan setumpuk fotocopy-an. Boro-boro buat beli kado.

Setelah lulus dan alhamdulillah berpenghasilan, saya sebenarnya bisa saja membelikan benda lain selain buku. Sesekali saya menjanjikan sesuatu yang bukan buku atau pun coklat. Tapi, entah kenapa, saya tak pernah memenuhi janji itu. Pada akhirnya, lagi-lagi, selalu buku dan coklat yang bisa dan terus saya berikan. Atau tulisan-tulisan sampah yang membanjiri e-mail mu. Hehe.

Perpisahan saya rayakan dengan menyerahkan buku, bukan coklat, bukan pula kecupan. Paling banter hanya tepukan ringan di bahu, atau ucapan “terima kasih” yang suaranya tertelan oleh bisingnya suara angkot yang lewat. Lalu semuanya berlalu; persis seperti salah satu paragraf dalam cerita Seno berjudul “Senja di Balik Jendela”:

“Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.” 

Mungkin ini sebentuk kutukan karena –kadang— saya “diberkahi” perempuan manis dan baik dan tulus juga karena buku. Jadi wajar pula jika pertemuan terakhir pun dirayakan dengan mengikutsertakan buku. Tapi ini jenis kutukan yang manis dan sedikit lucu.

Ya, dari debu kembali ke debu, dari buku kembali ke buku. Dari magang kembali ke magang, dari pegawai tetap kembali ke tetap pegawai.

Anehnya, sejak bertahun-tahun dulu, saya amat jarang sekali (mungkin tak pernah) menerima hadiah buku, hanya coklat. Entah kenapa. Memang ada beberapa biji buku, tapi itu tak diniatkan untuk dihibahkan, melainkan tertinggal dan belum sempat diambil si empunya sewaktu terakhir bersua. Kapan hari pasti saya akan mengembalikannya.

Jadi, jika saya barangkali dikenang oleh mereka melalui –pinjam kalimat Joko Pinurbo– “buku yang tersimpan manis dalam rak buku”, saya pastilah akan mengenang mereka dengan cara yang tak sama dengan cara mereka mengenang saya. Ini soal bagaimana dan dengan cara apa berbuntal-buntal kenangan itu dirajut untuk kemudian dibuat lantak sembari tersenyum dengan ringan, mungkin sambil bersiul sya la la la la…. [duhai buku-bukuku, layanilah “tuan dan puanmu” yang baru dengan sebaik-baiknya]

Selamat merayakan “fucklenying day”! hehehehe…. :p


“Notes’n’Words”
I wanna dance like no one’s watching me
I wanna love like it’s the only thing I know
I wanna laugh from the bottom of my heart
I wanna sing like every single note and word it’s all for youIs this enough?I wanna tell you and this is the only way I know
and hope one day you’ll learn the words and say
That you finally see, what I seeAnother song for you about your love
’cause you love the me that’s full of faults
I wish you could see it from this view
’cause everything around you is a little bit brighter from your loveI wanna dance the night away with you
I wanna love because you taught me to
I wanna laugh all your tears away
I wanna sing ’cause every single note and word it’s just for youHope it’s enough?

I wanna tell you and this is the only way I know
and hope one day you’ll learn the words and say
That you finally see, how I feel

Another song for you about your love
’cause you love the me that’s full of faults
I wish you could see it from this view
’cause everything around you is a little bit brighter from your love

Not a day goes by that I don’t think
about you and the love you’ve given me
I wish you could see it from this view
’cause everything around you is a little bit brighter from your love
Life is just so much better from your love

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan, Tak Berkategori and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s