ليل (Layl)

Menikmati kesunyian malam bukan barang baru. Bahkan para nabi zaman dulu pun banyak meluangkan waktu untuk bangun tengah malam.

mesjid raya bogor

Mesjid Raya Bogor

Bergelut senda dengan malam. Kadang, dengan amat sadar, saya lebih memilih memicingkan mata tinimbang memejamkannya. Memilih terjaga daripada terlelap. Tapi, belakangan, rasa-rasanya bukan saya yang memilih. Sekarang malam yang sepertinya lebih sering memilih saya.

Maka terjagalah saya. Sepanjang malam, sepanjang kelam. Juga malam ini. Susah benar membenamkan mata pada kelopaknya. Padahal lampu sudah dipadamkan, buku-buku sudah dirapikan, tempat tidur sudah dihamparkan dan badan sudah dibaringkan.

Butuh kesabaran untuk terus menahan diri tetap telentang di pembaringan, melawan naluri tubuh yang menjompak-jompak selalu ingin bangkit dan terjaga. Pertarungan untuk terlelap yang selalu tergelar malam demi malam membuatku lebih mengerti “Kesabaran”. Sebab, tak mudah bagi para pengidap insomnia untuk terlelap. Butuh kesabaran tak sederhana untuk mengirim sepasang mata di bawah naungan keteduhan kelopaknya.

Mungkin saya memang bukan orang yang cukup penyabar. Jika setelah setengah jam tak juga terlelap, saya kadang menyerah, lalu bangkit dari pembaringan, menyalakan laptop, menyeduh air susu bubuk dan kemudian menyeruputnya. Lalu, seperti yang sudah-sudah dan memang selalu begitu, PES dan FM menjadi sasaran pelampiasan kegagalan menaklukkan dorongan tubuh yang selalu ingin terjaga. Musyawarah adu taktik pun tergelar. Kadang lama. Kadang singkat. Tak tentu.

Jika sudah begini, giliran otak yang minta dipuaskan. Dengan segera kening berdenyut, menyusun garis-garis tipis di jidat –tanda bahwa saya sedang memikirkan sesuatu, dari yang berat hingga yang ringan, dari yang serius sampai yang sepele, dari yang suci hingga yang jorok.

Ritus selanjutnya mudah ditebak: Ms Word kembali menjadi altar tempat aku menghaturkan hio berupa deretan aksara yang kujejalkan dengan paksa. Hampir semua postingan di blog ini dilahirkan di tengah ritual malam yang –sejujurnya—begitu melelahkan.

Tapi, semua pengalaman yang sepintas terasa menyenangkan itu sebetulnya sering terasa meletihkan, terutama pada saat di mana saya sebenarnya benar-benar ingin istirahat. Tapi kantuk selalu datang terlambat. Ia seperti sedang memusuhi saya. Sementara malam rasanya berubah menjadi pencemburu yang tak sudi jika hanya siang saja yang bisa memperkosaku. Tubuhku seperti menjadi panggung di mana waktu begitu bersemangat memamerkan kuasanya.

Inilah yang sedang saya hadapi: diperkosa siang dan digagahi malam!

Ini berakibat buruk, tentu saja. Bangun terlambat, tertinggal mobil jemputan, ngebut di jalanan, dan yang terparah meski sedikit lucu. Saya sampai-sampai lupa pakai seragam ke kantor. Alhasil perlu pintar-pintar mengelabui orang dengan berhalang sweater coklat hehe :p

Anehnya, emosi saya stabil. Marah karena hal-hal yang memang menjengkelkan tentu masih kadang datang. Tapi itu tak pernah lama hinggap. Kemarahan bisa punah tak sampai sepotong gigitan coklat.

Beberapa tulisan yang cukup lumayan bisa saya hasilkan. Beberapa di antaranya berhasil memenuhi ekspektasi saya, standar yang saya tetapkan sendiri. Meski banyak pula yang sebagiannya hasil menyadur termasuk tulisan yang sedang saya buat ini.

Di sini saya menjumpai paradoks. Di satu sisi saya begitu jengkel dengan susahnya saya tidur –sebentuk kejengkelan yang kadang membuat saya merasa begitu letih dan frustasi. Tapi, di tengah keletihan dan kejengkelan itu, saya kok bisa lebih jernih menulis, bisa lebih sabar menatah kata dan menyungging makna.

Malam, barangkali, tak sejahat seperti yang saya bayangkan sewaktu jengkel karena kantuk begitu enggan mendekat. Jangan-jangan, tubuh saya memang tahu benar bahwa sekaranglah saatnya saya bekerja sekuat-kuatnya. Mungkin, ya… mungkin, saya tak pandai membaca isyarat tubuh saya.

Pertaruhannya memang tidak kecil. Amat bisa jadi kelak saya akan ambruk dan mesti berbagi ranjang dengan penyakit. Membayangkan itu bukan hal yang mudah. Menyedihkan rasanya tergolek tanpa daya, menjadi tuna karya. Seperti yang terjadi dipertengahan tahun kemarin, demi Tugas Akhir saya hampir mati karena menghabiskan setiap malam ditengah kepulan asap rokok. Belum lagi penyakit gejala usus buntu dan batu ginjal yang menghampiri di penghujung tahun kemarin.

Tapi malam mungkin memang telah memilih saya sebagai sahabatnya. Tak ada pilihan lain: saya menerimanya!

Kebetulan pikiran sedang menumpuk di kepala. Cukup mengganggu ihwal pertanyaan tentang tujuan. Semakin mumet ketika tidak sengaja melihat status terbaru dari kawan saya melalui akun sosmed miliknya. Tulisnya kira-kira begini “Ayah saya bilang [Jika ingin bersenang-senang di masa muda taruhannya adalah masa tua. Sedangkan jika ingin masa tua bahagia korbannya adalah masa muda.] Kalau begitu saya pilih pilihan yang ke dua.”

Setidaknya dari situ saya bisa menebak bahwa tujuan hidup dia adalah bahagia di masa tua meski harus mengorbankan masa muda. Pilihan tersebut tidak lah salah, namun tidak pula seratus persen benar. Menurut saya tidak ada salah atau pun benar dalam sebuah pilihan. Karena memilih nasib adalah sebuah konsekuensi. Apapun yang kamu pilih ada konsekuensinya. Memilih bahagia di masa tua tidak salah selama kamu benar-benar hidup sampai tua. Tapi kenyataannya kita adalah manusia yang bersandar pada angin. Taruhannya adalah muda menderita, malah mati sebelum bahagia. Kapan kamu bahagia? Di Surga kah? heuheuheu. Kita ini adalah makhluk sok tahu yang seenaknya menerjemahkan kehendak tuhan. “Yup, tuhanlah yang maha tahu, sedangkan saya cuma sok tahu.”

Pilihan semacam itu pasti bisa ditanyakan kepada setiap orang yang baru melangkahkan kakinya ke dunia yang katanya fana ini. Termasuk bila saya diminta untuk memilih salah satu dari jalan hidup tersebut. Saya akan memilih yang pertama, untuk bersenang-senang di masa muda. “Hidup yang tak dipertaruhkan tak kan pernah dimenangkan.”

Tidak ada jaminan hari tua kita akan bahagia meski kita sudah memilih risiko untuk hidup kurang piknik di masa muda. Terlebih jika kita sudah paham ihwal cara bersenang-senang paling sederhana adalah bersenang-senang di atas penderitaan sendiri bukan di atas penderitaan orang lain. Masa muda itu pasti. Jalan pikiran jadi orang kolot itu pilihan.

Selalu ada rasa khawatir tentang waktu yang habis begitu saja. Lebih baik membaca buku tipis padat cerita ketimbang buku tulis nan tebal yang tulisannya jarang-jarang. Dari situ saya jadi teringat “Surat untuk Yana”.

“Begitulah, Yana, setiap orang mengandung dalam dirinya pengalaman yang hebat, sederhana, dalam atau tinggi, datar atau menggelora. Yang bagi papa hebat adalah pengalaman itu an sich, pengalaman itu sendiri. Sedang kehebatan, kesederhanaan, kedalaman, ketinggian, kedataran, dan penggeloraannya hanya penilaian atasnya dari orang yang mengalami sendiri atau orang ketiga, mungkin juga kedua.

Maksudku hanya hendak mengatakan padamu: setiap pengalaman yang tidak dinilai, baik oleh dirinya sendiri ataupun oleh orang lain, akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain dari fondasi kehidupan.

Maka belajarlah kau menilai pengalamanmu sendiri.”

— Pramoedya Ananta Toer, “Surat untuk Yana”, dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II.

Yup, begitulah, seperti apa pun cerita masa mudamu syukurilah dengan bersenang-senang. Toh salah satu kebahagiaan di masa tua adalah menceritakan masa muda. Bayangkan ketika bahagiamu baru dimulai ketika sudah renta. Apa yang bisa kamu bagi selain cerita tentang sesal demi sesal yang membuat hidup terasa pendek.

****

Saya berpikir untuk tak lagi mengutuki insomnia ini. Jika memang malam sedang mesra dengan saya, maka nikmati sajalah. Jika memang belum ngantuk, kenapa harus jengkel jika mesti terus terjaga?

“Aku menghitung prajuritku pada malam hari,” kata Napoleon yang konon tingginya hanya 162cm.

Saya tak punya prajurit, tentu saja. Saya hanya punya kata-kata. Saya mengeluarkannya. Saya menatahnya. Saya menyunggingnya. Saya menghitungnya. Semuanya berlangsung pada malam, yang kadang terang, kadang kelam.

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Tak Berkategori and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s