Ijazah yang Dibakar

Sekolah diciptakan oleh kaum yang tidak pernah sekolah. Sekolah merupakan konsep yang diciptakan untuk mendokumentasikan sejarah keilmuan. Oleh karena sekolah pula lah perkembangan peradaban manusia bisa berkembang lebih cepat.

Namun lulus bukanlah tujuan dari sekolah. Jika sekolah adalah proses belajar dengan konsep mengajari dan diajari sampai akhirnya menjadi orang terdidik maka lulus dan memiliki ijazah bukan satu-satunya tanda seseorang pernah sekolah(mengenyam bangku pendidikan).

Didik dalam kamus kbbi didefinisikan sebagai memelihara dan memberi latihan(ajaran, tuntutan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan diartikan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses,cara, perbuatan mendidik.

Saya jadi ingat tulisan Zen RS yang kualitas buah pikirannya sudah diakui banyak orang. Tulisan tentang mungkin “dia” memiliki niat untuk membakar ijazah tepat di hari wisudanya. Membakar ijazah adalah tindakan yang telengas. Bagi sebagian orang ijazah dianggap sebegitu berharganya. Sampai-sampai mereka bersekolah seolah-olah sedang menyembah ijazah.

Beruntung “dia” tidak jadi melakukannya karena sampai tulisan yang saya baca itu selesai dibuat belum ada ijazah yang dibakar. Bukan karena terlalu sayang dengan ijazah, katanya. Tapi lebih karena pada saat itu dia memang memutuskan untuk menunda kelulusannya.

Itu artinya, sampai tulisan itu dibuat dia tidak punya ijazah sarjana dan tidak ada pula yang bisa dia bakar.

Ijazah sebagai surat “Kredensial” atau “Surat Kepercayaan” yang tradisinya bahkan sudah bertahan sejak abad XV atau bahkan lebih tua lagi. Sepertinya ini menunjukan konversatisme atau kekolotan. Tapi, percayalah, melalui apa yang sepintas konservatif atau kolot inilah kecenderungan untuk “memberhalakan” ijazah itu dimulai.

Ijazah ini menjadi “modal” yang -jika dikelola dengan maksimal- akan berubah menjadi “harta” dan dari “harta” kemudian dialihkan menjadi “kuasa”.
Doktor Daniel Dhakidae, menyebut ini sebagai “lingkaran yang tak terputuskan karena kekuasaan pada gilirannya harus sekali lagi berputar-balik untuk mengkonversikan ‘barang’ jadi ‘modal’ lagi dalam siklus yang hampir-hampir tak pernah putus”.

Saya pernah ingin mencobanya, membakar ijazah di hari wisuda. Penyebabnya adalah karena rasa sesal dan kesal yang tidak terbendung. Kesal karena gagal membantu teman yang akhirnya pending. 

Saya sudah banyak dibantu orang, maka hutang budi yang membumbung adalah ganjalan yang sampai saat ini belum bisa terbayarkan. Saya terlalu sibuk menyelamatkan diri dari deadline.

“Teman, tak ingin lagi atau lebih tepatnya tak tahu lagi apa artinya ketika tidak ada lagi masalah untuk bantu diselesaikan”.

Niat membakar ijazah tepat di hari wisuda yang belum terkukuh sepenuhnya itu akhirnya runtuh setelah menerima sampul tebal yang diberikan langsung oleh pak direktur tepat di hari wisuda. Di dalam sampul keras nan tebal tersebut ternyata tidak ada ijazah. Sampul keras tersebut hanya berisi selembar kertas bertuliskan SELAMAT dengan huruf kapital yang bisa dibaca dari jarak mata sejauh lima meter.

Ternyata ijazah saya masih ditahan. Bu Nur asisten prodi bilang, ijazah saya ditahan karena belum menyelesaikan berbagai sangsi admisnistrasi berupa kompensasi bersih-bersih ruangan dan sejumlah tanda tangan dari setiap ka.lab. Tanda tangan itu dimaksudkan sebagai bukti bahwa saya sudah bebas dari masalah.

***

Setelah semua selesai. Barulah akhirnya saya bisa menuntaskan hasrat untuk membakar ijazah. Tapi, waktu sudah keburu mengubah ingin menjadi angan. Lagipula sebagian sesal sudah terbawa angin. Sebagai penggantinya untuk tetap memuaskan hasrat, maka fotokopi ijazah lah yang akhirnya menjadi tumbal, sebagai IJAZAH yang DIBAKAR.

***

Ayenamah gigitaran hela we. TA mah isuk dei xD

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan, Tak Berkategori and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Ijazah yang Dibakar

  1. berkahkhair says:

    ijazah itu adalah sebagai bukti resmi pendidikan kita

    berkahkhair

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s