Bukan Dilan

Dilan adalah tokoh di dalam dwilogi novel berjudul Dia adalah Dilanku yang ditulis oleh Pidi Baiq. Novel itu bercerita tentang bagaimana Milea sedang menceritakan masa remajanya saat masih SMA di tahun 90an. Dilan diceritakan sebagai sosok yang romantis, berantakan, dan konyol.

Dilan memang remaja yang agak berantakan semasa SMA, tapi dia adalah orang yang disiplin pada cita-cita. Buktinya Dilan tidak pernah diriwayatkan sebagai orang tolol meski tingkahnya agak konyol. Dilan banyak mendapat masalah di sekolahan namun bukan karena nilainya yang buruk tapi lebih karena pikirannnya yang sudah merdeka.

Sesekali mungkin kita akan menemukan diri kita di dalam tokoh Dilan. Diri kita yang tidak terwujud karena belum tentu kita sanggup untuk menjadi “Dilan”. Kita mungkin punya ide-ide gila seperti Dilan namun kita belum cukup berani untuk benar-benar melakukannya. Risiko dari melanggar kelaziman membuat kita berpikir berulang-ulang untuk melakukan tidakan gila yang sebetulnya masih di dalam koridor. Dilan tidak pernah mencoba membuatkan Milea beribu-ribu candi dalam semalam, Dilan juga tidak pernah menculik Milea ke hutan dandaka, apalagi menyatakan perang antar negeri demi Milea. Dilan hanya melakukan apa yang dia ingin lakukan. Dilan memupuk pola pikirnya sendiri, lalu merawatnya, sampai tumbuhlah sebuah karakter yang berakar kuat menjadi Dilan yang selalu dikenang Milea.

Kenangan Milea tentang Dilan sudah ditulis secara apik dan unik khas Pidi Baiq. Hasil tulisan tersebut berbuah menjadi dwilogi novel yang laris di kalangan remaja. Kenangan Milea tentang Dilan menjadikan sosok Dilan sebagai idola. Dilan dinilai menjadi sosok ideal sebagai lelaki yang layak dicintai. Imbasnya banyak para badboy mengalami kecelakaan dalam berpikir. Mungkin terselip dirimu dalam sosok Dilan tapi sadarilah dirimu bukan Dilan. Dilan mangajarkan kita untuk melakukan tindakan sesuai dengan apa yang dia yakini, bukan melakukan sesuatu dengan memaksakan diri, maka jadilah diri sendiri.

Saya agak cekikikan ketika melihat siswa berseragam putih-abu yang memberi kado pada siswi di selasar alun-alun kota Bandung. Kado itu kotak, pipih, tipis, dan lembek. Warnanya didominasi biru dengan gambar Lilo and Stich di sana-sini. Tak lama setelah si siswi menerima kado, kado tersebut dirobek untuk dilihat isinya. Isinya ternyata adalah sebuah buku tipis dengan sampul bergambar cewek binal berbikini. Di atas sampul tersebut ada isolasi ketas yang bertuliskan, “TTS ini sudah aku isi semua biar kamu gak pusing.” Tak sampai dua detik siswi itu mengerutkan dahi dan berkata, “Buat apaan ini?” Beruntung siswi itu tidak sampai hati untuk langsung menolak sebuah pemberian. Dia hanya menerimanya lalu sudah. Siswi itu lalu pulang naik Damri sedangkan si siswa pulang naik beAT. Lalu hening, angin-angin kota berdesir menyapu rambut SPG rokok di sebrang jalan, terlihat lah buku tipis yang terbang dari jendela Damri melayang-layang lalu jatuh ke trotoar.

Saya jadi teringat tentang Dilan. Saya tahu, benar-benar tahu dan merasakan bagaimana indahnya TTS yang diberikan Dilan pada Milea di dalam novel. Situasi barusan memang berbeda, dengan orang-orang dan suasana yang berbeda pula. Maka kenapa harus disama kan? Siswa itu bukan Dilan, Siswi itu juga bukan Milea. Maka, Jadilah diri sendiri.

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in Semacam terserah, Semacam Tulisan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s