Empat Meter

Sepakbola memang selalu begitu. Saya tidak pernah lupa bagaimana sepakbola pernah mengalihkan perhatian saya pada apapun. Jika sudah berada di lapangan. Saya akan lupa segala pelajaran sekolah, PR dari guru, tugas menguras bak, bahkan lupa jam untuk segera pulang ke rumah, lupa waktu, lupa segala. Selama berada di lapangan, yang terlihat hanya bola dan bola. Lain tidak. Setelah beranjak dewasa pun, saat impian menjadi pemain bola sudah dibuang jauh-jauh, ketika sepakbola hanya dimainkan untuk mencari keringat di lapangan futsal, saya masih bisa menikmati waktu-waktu yang begitu alami, ketika hidup tak sanggup ditundukkan dan dicacah oleh beragam jadwal, agenda, dan tenggat. Dunia terasa begitu sederhana dan jernih saat sedang berada di atas lapangan untuk menyepaki bola.

Saya masih ingat ketika teman-teman masa kecil dulu mengetuk-ngetuk pagar rumah, memanggil-manggil nama saya dari luar pagar, mereka mengajak saya untuk segera bergabung di lapangan bola.

Sekarang saya hanya bisa menyaksikan anak-anak kecil bermain bola di tepi lapangan sambil bersila. Saya lihat mereka bermain bola dipimpin oleh seorang pelatih yang telah menjelma jadi kanak-kanak lagi. Hanya ketika meniup peluit dan berbicara memberi perintah dan instruksi ini-itu sajalah pelatih itu kembali menjadi laki-laki dewasa, orangtua yang mesti didengar, pihak yang punya otoritas pengetahuan dan pengalaman. Tapi, dalam posisinya sebagai orangtua yang otoritatif itu pun, sang pelatih masih bisa terlihat menyenangkan, lepas dan bebas.

 
Pelatih itu beberapa kali meniup peluit, menghentikan pertandingan beberapa saat, dan memberikan beberapa instruksi. Pelatih itu menghentikan pertandingan saat beberapa anak hanya diam ketika tak sedang menguasai bola.

“Lapangan bola teh 50 x 100 meter. Dibagi dua jadi 50 x 50 meter ewang. Nah, masing-masing tim eusian lima puluh meter. Tiap tim aya sabarah urang? Sabelas urang pan? Jadi, sabelas urang eta teh kudu isi kira-kira lima puluh meter persegi. Lima puluh meter dibagi sabelas sabaraha? Kira-kira opat meter leuwih saeutik lah nya? Nah, ulah jarauh teuing, kudu rapet, jaga jarak opat meter terus. Jarakna dareuket weh. Ulah jauh-jauh. Mun maneh can menang bal, maneh kudu angger lumpat. Maen rapet, opat meter. Ngenaheun maena rapih. Oper-oper we ulah ripuh-ripuh teuing pan?”

Lumayan juga cara melatihnya. Pelatih itu sudah mengajarkan pentingnya mengumpan, menjaga jarak antar pemain, dan terus bergerak walau sedang tidak sedang menguasai bola. Saya merasa kata-kata pelatih itu sudah cukup jelas. Dan, saya tidak pernah mendengar kata-kata itu saat masih di SSB dulu.

Cara bermain yang diingikan pelatih itu seperti total football-nya timnas Belanda yang diperkenalkan oleh Johan Cruff. Main cepat tanpa henti dengan pergerakan yang variatif. Total football memang gaya bermain sepakbola yang tampak rumit meski pun prinsipnya sangat simpel, yaitu dengan terus bergerak tanpa henti. Dibutuhkan daya tahan tubuh yang luar biasa untuk memeragakan gaya beramain total football secara sempurna.
Namun, selebihnya sepakbola memang lebih mudah dinikmati dengan menggiring bola dan mencetak gol. Kadang kita malas untuk tahu teori kemenangan. Kita lebih suka langsung menang tanpa peduli teori.

Setelah bosan mendengar teriakan pelatih untuk menjaga jarak jarak empat meter pada anak didiknya saya lalu merebahkan tubuh, terlentang di atas rumput di pinggir lapangan. Saya mencoba mengusir hantu masa lalu yang tiba-tiba saja hadir.

Berapa jarak antara kenangan dengan seseorang sebenarnya? Empat meter seperti kata pak pelatih ke pada anak didiknya tadi?

Halah, tentu saja kehidupan tak melulu bisa dipahami dengan logika permainan sepakbola. Namun apalagi caranya untuk memahami itu semua tanpa melalui idiom-idiom, istilah-istilah, atau konsep-konsep yang punya kaitan dengan sepakbola. Bahkan kenangan itu tiba-tiba saja menyeruak di sini.

Pemain bola sudah pasti tahu kalau bola datang dengan kencang, saya harus menarik kaki ke belakang sedikit waktu bola menyentuh kaki, agar bola tidak terpental terlalu jauh. Setiap pemain bola pasti tahu itu. Tapi kalau seseorang menjauh gara-gara kwetiau, saya harus bagaimana?

Kita memang seringkali kesulitan menjelaskan apa yang terjadi di dalam kepala. Kenangan memang bukan hafalan. Kenangan selalu tidak terduga. Bahaya dari kenangan, dia bisa datang kapan saja, semaunya. Beda dengan hafalan yang sepenuhnya dikendalikan kekuatan ingatan si penghafal, kenangan itu berbeda. Kenangan bukan benda yang bisa dipermainkan dan dipanggil pulang kapan saja. Kenangan bergerak dengan caranya sendiri, semacam rumput liar yang tak pernah diinginkan.

Ada batas agak sumir antara ingatan dan kenangan. Keduanya saling menelikung, saling memunggungi, tapi kadang juga justru saling melanjutkan satu sama lain.

Jika kenangan sudah memperlihatkan diri, tak ada yang bisa menampiknya. Satu picu kenangan meletup, maka bermunculanlah kenangan-kenangan lainnya, saling bertaut satu sama lain, berpilin sedemikian rupa. Kenangan menghadirkan masa silam sebagai sebuah keutuhan dalam sekejap. Seperti halnya kita apabila mendengar sesuatu yang familiar dari masa lalu, lalu teringat totalitas hubungan tai kucing yang menyedihkan.

Tapi, begitu kita mencoba melengkapi kesatuan masa silam bersama tai kucing dengan berbagai detail yang sebelumnya belum muncul, saat itu juga sebenarnya kenangan telah berhenti. Kenangan telah diganti dengan ingatan. Dengan ingatan saya mencoba mengendalikan bayangan masa silam apa yang ingin dipanggilnya. Pada kenangan kita tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah saja pada slide demi slide yang tiba-tiba bermunculan secara beruntun. Jika ingatan adalah anak kandung yang sah dari masa silam, kenangan ialah anak haram dari masa silam.

Saya menatap kunci motor Supra di samping sana. Jarak antara saya dan kunci tersebut hanya empat meter. Saat saya ingin beranjak pergi, ada rasa malas yang luar biasa. Saya bangkit dan berjalan ke arah kunci yang jaraknya hanya empat meter itu, kenangan bersama motor supra itu… Saya menggapainya sambil menolehkan wajah ke arah yang berbeda, ke arah entah di mana, pada masa silam yang mungkin lebih manis.

#Ahhh any*******ng, nulis bolanya gagal lagi wkwkwkwkwkw, setuuuuuuun! Dududududu…….#

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam terserah, Semacam Tulisan, sepakbola and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s