Tak Apa

Ya udah, gak apa-apa.

Harapanku, kamu masih belum lupa sama aku. Kamu hanya lagi sibuk mengurusi gaji orang-orang, belanja online, main duel otak, baca buku, dan sebagainya. Kamu hanya masih repot menjadi seseorang yang bagai samudra walaupun cuma buih. Iya, iya, walaupun cuma buih tapi kamu menyatu dengan samudra. Buihnya kamu. Sedangkan samudranya adalah orang-orang di sekitar kamu itu.

Maksudku itu bukan sinisme, bukan cemooh, apalagi sarkasme. Meski mungkin ada unsur itunya juga sih.

Heh, Kampret. Sampai sekarang kamu belum mau menunjukan lubang hidungmu meski hari Minggu kemarin aku sudah mau-maunya jauh-jauh datang ke kedai bakso jeletot di halaman Indomaret yang di depannya ada kedai susu murninya itu.

Aku gak marah, Mungkin sedikit kesal. Tapi tidak terlalu kesal. Atau mungkin tidak terlalu apa-apa pun tidak apa-apa.

Entah karena apa aku tetap gak putus asa walau kenyataannya sekarang aku cuma bisa like-like-an gambar di IG yang gak ada ujung pangkalnya itu denganmu. Hampir setiap jenak aku berpikir, jangan-jangan benar tuduhan si Bangke temanku, bahwa semua lakon ini sesungguhnya cuma berlangsung di dalam benakku.

Semua karut-marut ini sesungguhnya cuma berkisar di sepanjang jalan dari PPI sampai ke POMAD yang sama-sama komplek militer itu. Kamu tak lain adalah dirinya juga, sebagaimana dulunya kamu juga sama-sama sering aku umpat sebagai dara di dalam kandang. Penyair W.S. Rendra pernah bersajak, “langit di luar, langit di badan, bersatu dalam jiwa….” Maka, alasan aku kesal terhadap kamu adalah apabila kamu masih juga tak kunjung menunjukkan lubang hidungmu itu.

Tapi, gak juga sih. Seluruh peristiwa ini bukan cuma khayalanku belaka. Ini sungguh-sungguh terjadi pada “langit di luar. Berkali-kali sudah aku sanggah dalam batin sangkaan si Bangke kawanku yang agak berengsek itu. Apalagi telah ku bubuktikan tidak ada duckface yang lebih imut-imut dibanding pose-poseduckface milikmu. Aku juga sudah betul-betul merasakan “lada-nya” kwetiau yang kamu makan di luaran sana. Aku betul-betul telah merasakan berbagai jenis olahan kwetiau dari berbagai penjuru kota. Sampai akhirnya kejadian tempo hari membuat aku tidak lagi berselera menyantap kwetiau.

Apakah perkara “e’e kucing” ini sudah tak ubahnya dengan pengadilan, yang setiap pihak harus membuktikan segalanya?

Aku bukanlah Rama yang hirau dan cemas pada gosip rakyatnya ketika mereka mempertanyakan status kejombloan Sinta setelah lama hidup bersama Rahwana di Alengka. Aku juga tidak akan sepertinya yang mencanangkan perang atas dasar ketersinggungan sebagai seorang laki-laki dan seorang kesatria.

Aku tidak perlu mengirimkan cincin kejujuran untuk membuatmu terus berkata jujur meski dengan keterpaksaan. Aku bukan dewa. Aku cuma manusia yang belum lelah untuk bersenang-senang di muka bumi. Mengapa kamu tidak berbahagia menjadi manusia dengan segala ketidaksempurnaanmu seperti aku juga dengan ketidaksempurnaanku?

Tak bisa kah kamu bedakan mana “ee kucing” dan mana keangkuhan. Perkara sepele yang oleh bocah ingusan saja sudah bisa dipilah-pilah. Masih kah kamu ragu dengan jarak?

Eh Kampret, denger ya, semua wanita tak terkecuali yang ada dan mungkin dekat di sekelilingku ini semuanya bisa terlihat cantik apabila dengan make-up, tas, dan baju-baju mahal. Tapi tak banyak orang yang bisa berpose duckface seimut dirimu walau tanpa riasan dan filter ini-itu.

Atau, maaf ya, aku yakin kamu gak alergi sama agama, apalagi aku kebagian menyaksikan transisi fashion kamu dari yang tadinya tidak berkerudung sampai besoknya tiba-tiba berkerudung hehe… Aku khawatir kamu malah panik kalo aku mulai kuat beragama. Kamu pasti pernah baca-baca di perpustakaan bahwa orang kalau sudah beragama secara benar, menjadikan Tuhan sebagai kekasihnya, maka cintanya kepada kekasih di dunia hanya sekunder. Cintanya kepada sesama manusia cuma dalam rangka cintanya sama Tuhan yang menciptakan manusia. Akhirnya kamu takut aku jadi seperti Ibrahim a.s. bahwa bila Tuhan sudah memerintahkan, bukan saja aku meninggalkanmu, diperintah menyembelihmu pun akan aku laksanakan bagai Ibrahim a.s. yang hendak menyembelih putranya? Kamu takut lantaran…. Bla…bla…bla…

Hehe.. Iya, iya, mungkin kamu gak sampai se-lebay itu. Aku kebablasan. Aku yang terlalu jauh menerka tentangmu. Terkaanku terhadapmu sudah kebablasan bercampur-campur dengan nafsuku. Tentu saja aku jauh berbeda dengan nabi Ibrahim a.s. Dalam membaca pertanda sebagai wahyu, beliau tahu betul apa itu firman Tuhan atau cuma bisikan setan. Beliau sudah maksum. Sedangkan aku, tentu saja tidak. Hmm.. Ya,udah deh.

Oh, iya, kamu tuh sebetulnya termasuk cewek feminis penyendiri atau sosialita sih? Tenang saja andai kamu mau menjawabnya suatu saat, Jawabanmu tidak akan memengaruhi penilaianku terhadapmu apakah kamu baik atau buruk. Tapi kalau kamu terus terang, mungkin suatu saat kita bisa saling bicara dengan lebih enak dan santai.

Aku masih ingat dulu kamu pernah bilang seperti ini kepada ku. “Kamu tuh, kalo udah punya target, langsung dikejar atuh.” Ketika itu aku sedang duduk menyamping di kursi motor sedangkan kamu berdiri di sampingku sambil memandangi jalan raya yang gak indah-indah amat. Lalu aku menoleh sebentar ke arahmu beberapa saat setelah kamu bilang begitu. Selanjutnya kamu meneruskan kata-katamu berbarengan dengan suara angkot 08 yang lewat. “Kamu mah apa-apa pingin seenaknya. Nugas ke sana aja sering telat. Kalo lagi males, langsung bolos. Kamu mah amburadul, tapi tetep disiplin banget sama tergetannya?Haha…Hmmm, begitulah. Waktu itu aku tidak menjawabmu melainkan hanya tersenyum dan kemudian hening heuheuheu…

Meski kamu sedikit demi sedikit mengenal beberapa hal tentangku tetap saja Kamu tidak akan pernah mengenalku sebaik kamu mengenal dirimu sendiri. Begitu juga aku barangkali. Yup, sudah pernah aku bilang kan, bahwa hidup pada akhirnya hanyalah kesunyian masing-masing.

Semoga tuhan memudahkan kita untuk kembali bertemu, ketika aku sudah jauh lebih edan dari ini. Aaaamiiin..

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan, Tak Berkategori and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s