ALEA JACTA EST

“Say good bye, I’m on my way”.

Waktu 7 tahun (3 tahun di SMK dan 4 tahun saat kuliah) bersenda gurau dengan mesin tidak bisa serta merta dikhianati begitu saja. Sebagaimana imajinasi yang dirawat sekian lama itu pantas mendapatkan penghargaan yang selayaknya dari kenyataan.

Saya tidak lagi ingin mengutuki diri dengan kalimat, “Trust me I’m not engineer.” Kalimat yang saya gunakan sebagai bentuk kekesalan karena sulit lepas dari jerat ilmu mekanikal di zaman perkuliahan dulu. Toh, pada akhirnya saya berhasil lulus dengan nilai yang gak buruk-buruk amat. Namun perayaan seperti apa yang bisa dilakukan untuk menghargai kelulusan saya itu? Bekerja di bidang yang jauh dari ilmu yang pernah saya kutuki itu tentu bukan jawaban yang bijak.

Teknik Mesin. Dalam bahasa inggris lebih dikenal dengan Mechanical Engineering. Mechanical adalah sesuatu yang harus ada kaitannya dengan motion (gerak) dan force (gaya), sedangkan Engineering adalah rekayasa. Jadi Mechanical Engineering dapat diartikan sebagai ilmu rekayasa yang melibatkan gaya dan gerak. Lalu apa hubungannya dengan estetika atau stylish jika itu semua bahkan tidak memerlukan adanya gaya dan gerak? Ada memang, namun terlampau jauh. Sekali lagi saya tidak ingin mengutuki diri lagi dengan berkhianat pada apa yang telah saya akrabi selama 7 tahun. Harus ada penghargaan yang layak untuk itu. Salah satunya dengan cara menerapkannya.

Ilmu mekanik sebetulnya bisa diterapkan di banyak tempat. Begitu banyak perusahaan yang membuka lowongan untuk lulusan teknik mesin. Bisa itu perusahaan manufaktur, kontraktor, migas, dll. Namun menemukan tempat yang membuat kita nyaman bukan hal yang mudah. Tidak ada satu perusahaan pun yang dapat menjamin hal macam ini. Karena kecocokan setiap individual untuk bisa nyaman di sebuah tempat itu melibatkan banyak faktor. Oleh karenanya menemukan kenyamanan di tempat kerja adalah berkah tersendiri.

Misalnya, dalam hal interaksi sosial di lingkungan kerja saya sudah cukup nyaman sekarang. Saya punya hubungan yang baik dengan setiap orang. Sungguh menyenangkan bekerja dengan suasana seperti ini. Tapi itu bukan berarti saya nyaman mengerjakan apa yang harus saya kerjakan. Tidak ada hasil kerja yang dapat memuaskan saya meski saya sudah mengerjakannya dengan baik (profesional). Saya selalu berusaha dinamis dan terus beradaptasi dengan apa yang saya hadapi. Tapi jika itu untuk menjadi seorang yang realis, entar-entar dulu deh. Di usia saya yang sekarang sepertinya masih pantas bila saya memiliki idealisme tinggi. Akan ada waktunya bagi saya menjadi seorang realis. Tapi sekarang saya masih harus berani mencari tantangan di luar sana.

Kita tentu sudah begitu akrab dengan kalimat “hidup adalah pilihan” yang kemudian bergeser menjadi “hidup adalah memilih” lalu ditegaskan lagi menjadi “hidup adalah menjalani sebuah pilihan”. Hidup laksana berjalan di jalan yang tidak pernah benar-benar lurus, banyak sekali persimpangan. Kadang kita bertemu persimpangan yang bercabang dua, kadang tiga, kadang banyak. Kita bergerak ke arah yang entah, sambil terus memilah-milah jalan.

Memilih tidak selalu mudah, kadang pilihan teramat sulit. Karena sejatinya setiap pilihan adalah sebuah pertaruhan. Setiap pilihan memiliki risiko dan itu berarti setiap kita sudah memilih kita harus sudah siap untuk menanggung risikonya. “If you risk nothing, then you risk everything.

Oleh karena itu dengan rendah hati saya memutuskan untuk memilih lalala

Lainnya

Waktu dalam kehidupan saya sekarang dibagi dua, di rumah dan di tempat kerja. Ini melahirkan dikotonomi stereotip tarik-ulur antara hobi dan karier. Dalam praktiknya, waktu yang 24 jam itu ternyata dibagi tiga: waktu di rumah, waktu di kantor, dan waktu dalam perjalanan yang bagi saya itu berarti berada di atas sepeda motor.

Taruhlah saya menghabiskan waktu 1,5 jam untuk mencapai kantor dan rumah dalam jebakan kemacetan, maka dari itu berarti 3 jam sehari. Alhasil kira-kira tak kurang dari seperempat waktu dalam hidup saya habis di atas sepeda motor. Saya bekerja mulai umur 22 tahun dan andai nanti berhenti di usia 55 tahun, maka tak kurang dari 10 tahun dari masa kerja saya akan habis di perjalanan.

Nah, apa yang bisa saya lakukan dalam waktu 10 tahun, tapi di atas sepeda motor? Hmmm. Perjalanan mengendarai motor bagi saya bisa menjadi Dunia Ketiga, setelah rumah dan tempat kerja. Di Dunia Ketiga itu dilangsungkan segala hal yang mungkin―maupun tidak mungkin―terjadi pada Dunia Pertama maupun Dunia Kedua: Berburu Pokemon atau Memboncengi sang pacar misalnya. Hmm haruskah saya berterima kasih pada kemacetan sepanjang jalan dari Cicaheum sampai Rancaekek.


Alea Jacta Est adalah ungkapan bahasa latin yang sering kita jumpai di komik Asterix. Memiliki arti bahwa “Keputusan (dalam kondisi sulit/beresiko tinggi) sudah dibuat dan tidak bisa dibatalkan/diulang, sekarang hasilnya tergantung pada nasib.”

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to ALEA JACTA EST

  1. azizatoen says:

    Wah ini sih lebih ampun-ampunan lagi kak, nggak sanggup saya bayanginnya ._.
    Semangat terus kak! 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s