Kwetiau

Waktunya pulang. Sore itu langit masih cerah dengan udara yang tidak begitu bersih namun tetap terasa segar. Ada rasa bebas yang terpermai, karena ada letih yang akhirnya terlampiaskan sore itu. Meski sebenarnya aku masih harus menundanya. Karena ada jarak yang harus aku tempuh. Aku harus berjalan lagi beberapa ratus meter untuk sampai kamar in the cost.

Tiiiiit…. Suara klakson berbunyi disampingku. Hmm. Ternyata dia dengan motor BeAT-nya. Oh iya, aku baru ingat, sore ini aku punya janji. Eh enggak, sebenarnya dialah yang berjanji. Hmmm.. Bukan, bukan. Mungkin lebih tepatnya kami berdua memang berbagi janji. Aku berjanji suatu saat akan mentraktir dia makan dan dia berjanji bahwa sore ini dia akan menagih janjiku. Ya, Secara tidak langsung kami memang merencanakan untuk pergi makan bersama sore ini.

“Ayo naik.” katanya. Aku diam, sedikit melirik, lalu melangkah lagi. Setelah beberapa langkah ternyata dia menyusulku lalu membunyikan klaksonnya lagi.

“Ayo naik.” Tawarnya lagi. “Kamu yang bawa (motornya). Nih helmnya. Kamu aja yang pake.” Sambil menyodorkan helm warna putih dengan motif bunga-bunga. Aku menolak. Selain karena helm-nya tidak cocok untuk aku pakai, juga karena aku sedang letih dan malas bepergian. Lagi pula dia bukan siapa-siapa-ku. Cuma teman, tidak lebih. Mengobrol saja jarang. Malah seingatku tidak pernah. Paling banter kami hanya saling bertegur sapa. Atau mungkin hanya saling melempar senyum apabila kebetulan berpapasan. Tapi entah kenapa pada akhirnya kami memiliki janji untuk makan bersama dan hanya berdua. Aku dan dia.

Tentu saja sebetulnya janji itu tidak terikrar begitu saja, semua ada awal mulanya. Begitu juga dengan penyebab yang akhirnya membuat kami jadi harus pergi makan berdua. Ada cerita yang sedikit berbelit dibalik itu semua, sedikit konyol, cenderung tidak penting.

“Oke, sini helmnya.” Sambil kuraih helm itu setelah beberapa lama kami hanya saling terdiam satu sama lain. Pada akhirnya aku mengiyakan. Aku naiki motornyanya dan dia kubonceng di belakang. Kupacu motornya pelan-pelan kurang dari 60 Km/jam. Maklum itu bukan motorku yang biasa kupacu lebih dari itu. Aku takut motor ini rusak bila kupacu kencang-kencang. Terlebih dia tidak pakai helm.

“Di mana tempat makannya?” Kutanya.

Gak tau

Lha? Kan kamu yang orang sini.”

Hmmm.. Maunya di mana?”

“Ya, terserah. Kan saya mah bukan orang sini. Gak tahu tempat-tempatnya.”

“Ya udah mau ke arah Bogor atau di daerah CCM?”

“Terserahlah. Asal jangan lewat jalan situ.” Sambil kutunjuk jalan utama di sana.

“Kenapa?”

“Malu ah, ntar disangkanya ngapain. Soalnya banyak orang kantor. Bisa-bisa jadi gossip. Bahaya.”

Gak kok. Tapi ya udah kita ke arah Bogor aja, tapi lewat sini, agak muter. Dia tunjuk jalan lain.

“Oke.”

Di dalam perjalanan sebenarnya aku sedikit cemas takut kena tilang karena dia tidak menggunakan helm. Tapi ada yang lebih bikin aku lebih was-was daripada itu seandainya di dalam perjalanan ini kami kepergok sama orang kantor. Bukan apa-apa atau takut gimana-gimana. Tapi aku sadar dia yang sedang kuboncengi ini merupakan salah satu primadona di kantor. Bukan karena cantik-cantik amat sih. Tapi mungkin lebih karena jumlah perempuan yang terbilang langka di sana. Apalagi aku sebetulnya belum tahu sekarang ini dia sedang punya pacar atau tidak.

Sepanjang perjalanan, kami lebih banyak diam. Sedikit sekali percakapan. Sesekali aku curi-curi melirik dia lewat spion. Di spion kiri wajahnya lebih sering terlihat. Entah kenapa di spion kanan wajahnya jarang sekali tampak. Kupikir dia sengaja lebih sering memalingkan wajahnya ke sebelah kiri karena takut terhempas angin laju kendaraan dari arah berlawanan.

Suasana sudah semakin garing. Aku harus mengalah. Aku harus membuat suasana mencair. Oke, aku akan coba membuka percakapan terlebih dulu.

“Kamu punya pacar?”

Eh, mmm.. blum..” Ada jeda yang lumayan. Dia sempat kaget sebelum menjawab pertanyaanku.

Ah, masa sih?”

“Iya.”

“Anak kantor katanya banyak yang naksir kamu.”

“Iya gitu. Gak tau

“Masa gak tau?”

Dia diam, tidak menjawab. Lalu perbincangan kami pun sejenak sepi kembali.

“Kamu pernah diajak makan bareng sama anak kantor?” kutanya lagi.

“Pernah.”

“Banyakan?”

“Iya”

“Si Bangbro juga?” (Si Bangbro itu atasanku.)

“Iya”

“Berdua?”

“Iya”

“Katanya banyakan?”

“Iya banyakan”

“Lhaa.. Itu katanya berdua?”

Kalo Sama dia berdua juga pernah.”

“Oh..”

Berengsek betul, kubilang dalam hati. Kenapa aku harus sembunyi-sembunyi kalau begitu. Ternyata selain denganku pun dia pernah makan bersama dengan seseorang. Dan hanya berdua. Jangan-jangan dia memang sudah beberapa kali makan bareng dengan beberapa lelaki. Ya, tapi itu hak dia. Lagipula seperti yang sudah kubilang di awal tadi. Dia memang bukan siapa-siapaku, dan aku pun bukan siapa-siapanya dia.

Obrolan kami mulai lancar setelah itu. Kami mengobrol yang ringan-ringan saja. Aku mulai mencoba mengenal dia lebih jauh. Dari obrolan itu aku jadi tahu di mana rumahnya. Berapa usianya. Melanjutkan kuliah di mana. Sampai siapakah orang paling nyebelin di kantor (Maklum saya orang baru ketika itu).

Tak terasa perjalanan sudah semakin jauh. Jauh juga kupikir. Awalnya aku kira jaraknya akan dekat. Oh, tentu saja dekat. Maksudku, tempat kami makan sore itu sepertinya akan dekat, tapi bukan dekat dengan kosanku. Jaraknya akan dekat jika diukur dari rumah dia. Dan itu artinya nanti aku harus menunda lagi untuk sekedar melepas lelah.

“Duh, jauh yah.”

“Iya.”

“Di mana sih makannya?”

“Di depan. Nanti ada perempatan. Belok sedikit.”

Dia menunjukan jalan yang sebetulnya sudah familiar bagiku. Jalan ini memang sudah lumayan sering kulewati. Tapi masalahnya aku belum tahu tempat makannya di mana. Boleh jadi sebetulnya tempat yang akan kami kunjungi ini sudah sering kulalui juga.

“Kamu suka pedes?” Akhirnya. Setelah lama, baru kali ini dia yang membuka percakapan.

Mmm.. Suka-suka aja. Kenapa?”

Gak.” Dia menjawab singkat tanpa penjelasan.

Dia selalu begitu. Membuat penasaran. Bicaranya sedikit-sedikit. Atau sore itu memang aku yang kebanyakan bicara. Padahal aku suka mendengar suaranya saat sedang bicara. Meskipun suaranya pelan. Sering kali aku harus bilang “Hahh…?” untuk membuatnya lebih jelas dalam berucap. Suaranya seringkali tertelan bisingnya jalanan. Yah itulah dia. Tapi aku harus jujur, aku memang senang jika berhasil membuatnya bicara.

“Belok mana nih?” Kataku di sebuah perempatan jalan.

“Kanan.”

“Oke.”

Tak jauh dari perempatan terlihat sebuah tempat makan. Aku tidak tahu harus menyebutnya café atau restoran. Tidak ada yang istimewa dari tempat itu, seperti tempat makan kebanyakan tentu saja ada kasir, kursi dan meja. Pengunjung tempat itu didominasi anak muda. Sebagaian ada yang bergerombol bersama teman-temannya, sebagian lagi ada yang makan hanya berdua. Satu laki-laki dan satunya perempuan. Seperti kami berdua kupikir. Tapi hampir pasti mereka adalah sepasang kekasih. Sedangkan kami bukan. Kami hanya sedang terjerat janji untuk makan bersama, tidak lebih. Selain itu masing-masing kami juga berjanji untuk datang sendiri-sendiri tanpa membawa teman, alias hanya akan ada kami berdua. Aku dan Dia.

Sore itu pada akhirnya kami memang benar-benar menepati janji masing-masing. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang ini. Aku hanya sedikit terkejut saat mendengar dia belum punya pacar. Kukira bekerja di tempat yang mayoritas diisi laki-laki terlebih dia juga melanjutkan kuliah kelas karyawan akan memudahkan dia untuk memiliki pasangan. Tapi saat itu dia malah menjawab “belum.”

Aku mengenal dia setahun sebelum kami makan bersama sore itu. Setahun yang lalu dia masih terlihat agak lugu. Penampilannya sederhana. Dia belum berkerudung waktu itu. Tapi setahun mengenalnya tak lantas membuat kami menjadi akrab. Sampai sekarang kami tidak pernah saling berbicara. Meski seringkali bertemu di kantor, tidak serta merta membuat aku dan dia menjadi akrab. Aku dan dia justru lebih akrab di Twitter. Sepertinya Twitter lebih mampu mendekatkan kami, lebih daripada yang bisa suasana bahkan jarak tawarkan.

Namun akrab melalui Twitter membuat imajiku tentangnya menjadi terpisah. Dia yang ku kenal di Twitter dengan dia yang ku kenal secara langsung memiliki perbedaan. Di Twitter aku dan dia tidak pernah canggung untuk banyak bertukar cakap. Berbeda sekali ketika aku langsung bertemu dengan dia. Bertukar senyum selalu menjadi satu-satunya interaksi antara aku dan dia.

Aku memang sudah mengenal dia setahun yang lalu. Setahun sebelum kami berada di tempat makan ini dan hanya berdua. Tapi jika dianggap selama setahun pula aku mencoba mengakrabi dia itu salah besar. Karena setahun lalu aku hanya bertemu dia secara rutin selama tiga bulan. Tiga bulan itu adalah masa di mana aku melaksanakan tugas di kantor ini. Setelah itu aku pergi untuk melaksanakan tugas yang lain. Sampai akhirnya aku kembali lagi ke sini dan bertemu lagi dengan dia setahun kemudian. Ini pun tidak akan lama tetap tiga bulan dan setelah itu entah kapan aku akan kembali lagi. Boleh jadi tidak akan pernah. Itu artinya boleh jadi aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan dia.

Kami sudah duduk satu meja. Kami duduk berhadap-hadapan dan dia masih menggunakan seragam kantor waktu itu. Sedangkan aku pakai kaos bola (A.C Milan) salah satu klub kebanggaanku selain PERSIB. Aku pakai kaos bola karena kebetulan hari itu aku menggunakan pakaian rangkap dua. Seragam kantor yang berada di luarnya kubuka dan kumasukan ke dalam tas. Ku pikir dengan begitu aku akan jauh lebih nyaman.

Lalu seorang pelayan memberikan buku menu pada kami. Dia yang mengambil buku menu tersebut. Dia pesan satu porsi makanan dan satu minuman yang entah apa. Seperti sebelum-sebelumnya suara dia selalu pelan. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas apa yang dia pesan. Mungkin suaranya hanya bisa didengar oleh pelayan itu.

“Kamu mau pesen apa?” Dia tanya.

“Samain aja lah.”

“Beneran?”

“Iya.”

Iya, aku masih ingat bahwa acara makan kali ini adalah aku yang bayar. Meski itu hanya candaan tapi janji tetaplah janji. Bagiku itu serius, meskipun jangan sampai membuat suasana ikut serius. Santai saja lah. Toh, dia pun menagih janjiku dengan bercanda. Tapi kenyataannya dia benar-benar menagihnya. Masalahnya berapa budget traktirannya tentu saja tidak pernah kami bahas. Tapi bukan itu juga masalahnya. Masalahnya adalah aku sendiri yang tidak pernah mempersiapkan budget traktirannya. Aku baru ingat itu 10 detik setelah aku meng’iya’kan pesanan makanannya tadi. Sebetulnya semua belum akan menjadi masalah apabila kartu ATM-ku tidak tertelan mesin ATM tadi pagi. Celakanya di dompetku cuma ada selembar uang seratus ribuan dan ada satu lembar dua ribuan di saku celana. Itu berarti apabila yang dipesannya tadi harganya melebihi angka Rp.102.000,- ‘Mati lah sudah’.

Sambil menunggu makanan datang aku selalu terganggu dengan pikiran itu. Bukan karena hitung-hitungan di depan cewek. Tapi sesuatu hal yang tidak diperhitungkan terlebih dahulu ya ini dia akibatnya. Aku berusaha tenang sambil tetap mencoba mengakrabi dia. Dia baik. Tutur katanya lembut. Namun tetap saja terlalu sedikit bicara. Hal itu sebenarnya membuatku sedikit tidak nyaman. Sepertinya dia lebih lancar apabila berbicara melalui sosmed. Semua itu akhirnya terbukti ketika dia mulai memainkan ponselnya. Entah dia sedang berinteraksi dengan siapa. Tapi sepertinya dia lebih cakap berbicara dengan ponselnya dibandingkan denganku yang ada di hadapannya.

Akhirnya makanan dihidangkan. Ternyata dia hanya pesan mie. Mie apa ini kaya kenal. Benar saja ini adalah kue. Kue apa? ‘Kuetiau’. Dia pesan kwetiau. Entah darimana dia tahu kalau aku akhir-akhir ini sedang senang makan kwetiau. Akhir-akhir ini aku sedang banyak mencicipi berbagai jenis kwetiau di banyak tempat. Atau mungkin ini hanya kebetulan saja.

“Kamu suka kwetiau?” Kutanya. Setelah huap pertama.

Mmm…suka” lalu dia tersenyum. (Berengsek. senyum imutnya masih kuingat sampai sekarang.)

“Pantesan pesennya ini haha.”

“Kan, memang di sini menunya, banyaknya itu (kwetiau).”

“Oh gitu.” Saya tidak tahu. Karena saya tidak sempat lihat buku menunya tadi.

Kupikir mungkin iya, mungkin juga tidak. Ada tiga alasan yang membuat dia membawa aku makan di tempat ini. Yang pertama, dia memang sengaja memilih tempat ini karena dia suka kwetiau. Kedua, dia tahu aku sedang senang makan kwetiau. Dan yang ketiga, semua hanya kebetulan. Aku tidak ingin menanyakannya. Biarkan saja semua indah dengan sendirinya. Dengan begitu aku berhak memilih sendiri apa jawabannya tanpa harus aku menanyakannya. Maka jika aku boleh memilih. Aku akan memilih semua jawaban, kecuali jawaban ketiga hehe.

Aku makan pelan-pelan, begitu juga dengan dia. Makan dihadapannya sedikit membuatku gugup. Meski dalam percakapan aku selalu mendominasi. Tapi dalam menelan makanan ini aku kalah telak. Bukan karena aku tidak suka rasa kwetiau yang dia pesan. Tapi karena kwetiau ini lebih pedas dari kwetiau yang biasa aku makan. Kurang ajar. Aku baru ingat, tadi dia sempat bertanya kepadaku “apakah aku suka pedas?” Yah, semua sudah terlambat. Aku bukan pembenci rasa pedas tapi pedas dengan level di atas kewajaran tidak sanggup kutahan. Bisa-bisa penyakit magh-ku kambuh seperti yang sudah-sudah.

Aku berusaha mengabaikan rasa pedas itu. Aku menghabiskannya. Meski dengan wajah yang penuh dengan keringat (termasuk dari hidung). Sedangkan dia makan dengan tenang. Sulit dipercaya cewek imut kalem macem gini senengnya makan yang pedes-pedes.

Kwetiauku sudah hampir habis sedangkan kwetiau milik dia masih banyak tersisa.

“Makannya gak dihabisin?” Aku tanya.

Gak ah, udah kenyang.”

Yeee.. Katanya pingin gendut.” Aku bilang begitu karena menurutku dia terlalu kurus. Tapi padahal gak juga sih. Dia sendiri juga pernah bilang ingin agak gendutan sedikit. Setelah itu dia tidak membalas lagi ucapanku. Dia hanya tersenyum. Lagi-lagi entah yang keberapa kalinya percakapan kami hanya berujung senyumnya.

Tapi, tak lama kemudian akhirnya dia bicara juga.

“Aku mah gak bakalan bisa gemuk, paling gemuknya cuma di pipi doang.”

Setelah itu dia ketawa geli. Senang rasanya. Akhirnya aku bisa melihatnya tertawa bukan sekedar senyumnya. Aku pun ikut tertawa.

Setelah itu kami berdua tetap melanjutkan makan. Kami sibuk mengunyah makanan masing-masing. Tidak banyak cerita yang bisa kami tukar saat itu. Hanya sesekali saja di antara kami saling bicara. Sebenarnya banyak yang ingin kubicarakan. Bukan hal yang penting-penting amat. Tapi jujur, aku masih bingung mau membawa arah pembicaraan ke mana. Aku khawatir dia tidak tertarik dengan apa yang akan kita obrolkan nanti. Apalagi jika aku ingin mengobrol tentang sepakbola.

Sesekali aku pernah dengar dia suka menonton futsal. Aku pikir futsal adalah bentuk lain dari sepakbola, di mana sepakbola melakukan penyesuaian dengan zaman yang tiap hari mempersempit lahan. Bukan hanya itu, tapi futsal juga memangkas jumlah pemain. Jika sepakbola butuh 22 orang, futsal cukup dengan 10 orang. Sehingga di zaman sekarang ini futsal lebih bisa dinikmati orang banyak dibanding sepakbola. Bagiku menikmati sepakbola adalah main bola itu sendiri. Bukan menonton bola. Bagiku ada batas yang agak sumir antara nonton bola dan main bola. Sedangkan yang dia lakukan adalah nonton bola. Futsal lebih tepatnya. Aku sudah sedari kecil main bola dan nonton bola. Aku pernah main futsal dan juga sepakbola. Aku juga sering nonton sepakbola entah itu langsung di stadion ataupun di TV. Hampir semua pertandingan sepakbola yang aku tonton itu adalah karena team faforitku yang sedang bermain. Aku jadi suporter. Di sana aku akan mendukungnya dan melepaskan hasrat untuk berteriak-teriak sampai tim yang aku dukung menang. Aku juga menikmati keindahan strategi yang bisa dipetontonkan oleh pelaku sepakbola. Tapi futsal? Futsal itu tidak semenarik sepakbola apabila hanya dijadikan sebuah tontonan. Futsal lebih bisa dinikmati apabila kita ikut main. Jika hanya menonton, kurasa tidak. Memang banyak skil tipu-tipu di dalam futsal yang lebih sering muncul dibanding dalam sepakbola. Tapi itu tidak serta merta membuat futsal lebih asyik ditonton. Bagiku, aku harus ikut bermain, baru aku bisa menikmati indahnya skil tipu-tipu itu. Jadi bagaimana dengan dia?

Dia sering menonton futsal. Yang menurutku tidak menarik jika hanya untuk dijadikan tontonan. Tapi itu lebih masuk akal dibanding jika aku mendengar dia ikut main futsal. Bayangkan seorang perempuan seperti dia main futsal dengan para lelaki. Ngeri betul kan. Jika argumenku bahwa futsal tidak asyik untuk ditonton itu berlaku juga bagi dia, dari situ aku bisa ambil kesimpulan, ada sesuatu yang menarik untuk dia tonton selain futsal itu sendiri. Dia menonton seseorang yang ada di sana. Seperti kebanyakan fans bola perempuan. Mereka menyukai sepakbola karena pemain tampan. Bisa itu karena David Bechkam, Frank Lampard, atau karena si flamboyan Mario Balotelli. Yang jelas bukan karena sepakbola itu sendiri. Sudah merupakan hal lumrah jika seorang fans perempuan yang sering nonton bola pun tidak pernah paham dengan peraturan offside.

Tidak. Mungkin saja itu tidak benar. Bisa jadi itu hanya prasangkaku saja. Lagipula aku juga saat itu belum sempat ikut futsal rutin anak kantor. Aku tidak tahu kalau dia benar-benar suka nonton futsal dan mengerti sepakbola atau tidak.

***

Sampai kwetiau sudah habis. Aku masih malu-malu untuk membuka pembicaraan tentang sepakbola. Eh tapi, aku pikir konyol juga ngomongin bola sama cewek. Pada kesempatan lain mungkin aku pandai berbicara. Tapi saat ini. Saat aku sedang di hadapan dia. Aku bukan lagi orang yang mampu mencairkan suasana. Terlebih itu adalah dia. Aku bingung mau bahas apa. Politik? Gosip artis? Liburan? Kerjaan? (hah.. kerjaan? Capek.. deh).

Akhirnya kami selesai makan. Lalu minum. Minum jus alpukat yang dia pesan. Semua berjalan biasa-biasa saja. Aku masih tidak tahu ingin membicarakan tentang apa. Sementara dia masih saja begitu. Terlalu pendiam. Padahal acara makan-makan ini tidak akan terjadi sore ini apabila dia tidak memaksaku sepulang dari kantor tadi. Aku jadi bingung. Apa iya seorang wanita memaksaku makan bareng cuma untuk menagih janji traktiran? Adakah yang ingin dia bicarakan atau dia tunggu. Tunggu apa? Ops, jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Saat itu aku memang cuma berdua dengannya. Itu juga kesempatan besar untuk bicara. Apalagi dia masih sendiri. Maksudku masih single. Setidaknya menurut pengakuannya. Oleh sebab itu ini waktu yang tepat untuk… Hmm enggak-enggak. Ntar-ntar dulu aja deh.

Aku rasa sekali bertemu belum cukup untuk mengenalnya. Memang aku sudah kenal dia setahun yang lalu. Tapi sebenarnya itu hanya sebatas tahu sama tahu. Kita belum saling mengenal. Bahkan menurutku, aku dan dia belum bisa menjadi teman. Obrolan kita pun banyak mandeg-nya. Aku belum seutuhnya mengerti dia. Kurasa dia pun begitu. Aku dan dia masih asing memandang satu sama lain.

Tapi kuharap dia tidak menganggap randezvous kita sore itu adalah sesuatu yang sia-sia. Aku dan dia belum sepenuhnya saling mengenal. Kalau pun ada maksud yang tertahan di balik diamnya itu. Dia bisa katakan itu kapan hari.

Hari sudah semakin sore. Senja mulai terlihat. Meski langit tidak lagi cerah. Langit sudah gelap dan mendung. Kita sudah selesai makan. Harga yang ku bayar pun ternyata tidak lebih dari Rp70.000,-. Dengan begitu aku sudah menuntaskan janjiku, dia juga. Sebetulnya dia sempat menolak traktiranku (baca:dibayarkan makanan) sore ini. Karena dia bilang, soal teraktiran itu hanya bercanda. Dia bisa bayar sendiri. Dia juga menjelaskan bahwa dia tidak benar-benar serius menagih janji soal teraktiran. “Cuma iseng aja.” Katanya. Tapi sudah kubilangkan janji tetaplah janji. Apalagi bagi seorang laki-laki.

Adzan maghrib akhirnya berkumandang. Aku mengajaknya untuk shalat dulu sebelum pulang. Tapi ketika itu dia menolak ajakanku. Ternyata dia sedang halangan. Dari situ pikiranku kembali berlarian. Adakah hubungan antara sikap diamnya dengan ‘halangan’-nya itu. Sudah menjadi misteri umum tatkala seorang perempuan lagi ‘M’ (mencretEh,bukan) psikologinya selalu berubah menjadi tidak biasa. Ah sudahlah tidak perlu dihiraukan. Selanjutnya aku izin untuk tinggalkan dia sejenak untuk mendirikan shalat di mushala.

Setelah itu. Akhirnya kami pulang. Aku masih bersama dia di dalam perjalanan. Dan kembali mengendarai BeAT-nya. Setidaknya sampai rumahnya. Sesampainya di depan gang menuju rumahnya aku berhenti. Karena dia bilang. “Udah, sampe sini aja.”

“Eh, kenapa? Bukannya masih agak jauh.”

“Kalo masuk ke jalan ini. Nanti gak ada angkot.”

Oh maksud dia. Bila aku ikut masuk ke gang. Nanti aku pulang ke kosan naik apa. Karena setelah masuk ke jalan kecil itu tidak akan ada angkot yang lewat. Aku jadi harus kembali lagi ke jalan besar setelah sampai di depan rumahnya untuk mendapatkan angkot. Aku mengerti. Tapi padahal gak apa-apa, meskipun benar aku sedang capek saat itu.

“Atau mau aku anterin aja sampai kosan?” Dia menawarkan untuk mengantarku sampai ke kosan.

Gak usah. Naik angkot aja gak apa-apa.”

“Beneran gak apa-apa.”

“Iya.”

Aku langsung turun dari motornya. Sedangkan dia ambil alih kemudinya. Tak lupa ku kembalikan helm motif bunga-bunga yang sedari tadi ku pinjam. Lalu aku bersiap menyetop angkot yang lewat. Langit sudah gelap waktu itu. Bukan hanya karena sudah malam. Tapi juga karena langit sudah terselubungi oleh awan yang berat menahan hujan. Air rintik-rintik mulai berjatuhan. Hujan tidak langsung deras waktu itu.

“Ngapain?” Kutanya. Karena dia tidak kunjung langsung pulang. Dia masih di situ bersama motornya.

“Nunggu kamu?”

“Nunggu apa?”

“Nunggu sampe ada angkot.”

Ternyata dia baru akan pergi kalau aku sudah naik ke angkot. Padahal hujan sudah mulai turun. Meski baru rintik-rintik kurasa hujan deras akan datang beberapa saat kemudian.

“Udah kamu duluan aja. Keburu ujan.”

“Kamu gak apa-apa pulang naik angkot?”

Gak apa-apa.”

Wussss… Satu angkot lewat dan tidak berhenti. Aku luput dari pandangan supir angkot. Mungkin supir angkot mengira aku bukan penumpang yang hendak naik angkot. Terang saja aku masih bersama dia. Aku dan dia masih ber’cakap’. Sesuatu yang langka terjadi antara aku dan dia. Karena percakapan itulah mungkin angkot enggan berhenti. Biasanya angkot akan berhenti setiap ada orang yang berdiri di pinggir jalan. Entah itu memang bermaksud ingin naik angkot atau tidak. Tapi aku masih bersamanya waktu itu.

“Tuh kan, jadi aja angkotnya gak berhenti. Mungkin dikiranya aku mau naik ojek. Hehe”

“Naik ojek?”

“Iya kan ada kamu di situ, naik motor. Mungkin dikiranya kamu tukang ojek.”

Ihh….

“Hahaha… Yaudah makanya cepetan pulang.”

“Ngusir nih? Ya udah.”

“Hehe.. Kapan-kapan kita main lagi yah.”

“Hmmmh..” Dia cuma senyum dan anggukan kepala. Lalu pergi.

Kepergian dia disusul hujan deras. Setelah itu akhirnya aku dapat angkot. Aku naik angkot di saat yang tepat sebelum hujan deras benar-benar membasahi tubuh. Dari dalam angkot yang sedang melaju ku pandangi jalanan yang mulai basah dan lama-lama tergenang.

Inilah Bogor dengan segala hujan dan angkot-angkotnya. ‘Hujan’ dan ‘Angkot’ membuat aku merasa benar-benar ada di Bogor. Hari ini Bogor seperti hal-nya Bandung bagiku. Dan Bogor bagiku bukan hanya sekedar letak geografis. Lebih dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi. Hehehe.. Maaf itu, quote Pidi Baiq yang aku plesetkan sedikit. Mari pulang melepas lelah dan biarkan yang terkenang.

Hujan deras. Jalanan mulai tergenang.

***

Keesokan harinya semua berjalan normal lagi seperti biasa. Setelah momen sore kemarin. Aku dan dia tetap sama seperti hari-hari lainnya. Aku dan dia tidak pernah saling bicara. Aku dan dia hanya sesekali menyapa apabila kebetulan berpapasan. Aku dan dia lebih sering saling melempar senyum. Aku dan dia kembali menjadi asing. Meski begitu aku dan dia masih tetap lebih akrab di twitter. Belakangan bukan hanya di twitter tapi juga di sosmed yang lain.

Tiga bulan masa baktiku yang ke dua di kantor ini pun sudah habis. Entah kapan aku akan kembali. Waktu itu aku memang pernah bilang “Kapan-kapan kita main lagi yah.” Namun dia tidak menjawab melainkan hanya tersenyum dan mengangguk. Aku sempat diam-diam mencarinya dengan cara ikut futsal rutin dengan anak-anak kantor. Katanya dia sering ikut nonton futsal di sini. Tapi selama aku ikut futsal rutin mingguan sampai tiga bulan berlalu aku tidak pernah sekali pun melihatnya ada di pinggir lapangan untuk menonton.

Itulah aku dan dia. Bila aku bisa akrab dengan dia bahkan melebihi orang lain di sosmed, kenapa aku dan dia tidak dapat akrab secara langsung. Banyak kata-kata yang ku tuliskan di chat-chat online dengan dia. Tapi tidak banyak percakapan antara aku dan dia. Pada akhirnya dia tetap bukan siapa-siapa bagiku. Pacar bukan, sahabat bukan, bahkan untuk disebut temanpun aku ragu.

Terlalu banyak kata-kata, tapi terlampau sedikit percakapan. Itu barangkali yang membentengi antara aku dan dia. Kutukan yang agak manis dan sedikit lucu. Sampai waktunya pulang (ke Bandung) aku dan dia pun masih tetap asing.

***

Semua berlalu begitu saja. Aku dan dia akhirnya kembali jauh. Aku dan dia bahkan sudah semakin kehabisan topik untuk dibicarakan di media chat online. Aku makin jarang berinteraksi lagi dengan dia. Paling-paling cuma like-like-an gambar di Instagram. Selain itu dia sempat mengucapkan selamat ulang tahun padaku via FB dan juga ucapan selamat ketika aku diwisuda tahun kemarin.

Jika ada yang harus aku abadikan dari kisah remeh temeh ini aku akan memilih kwetiau untuk jadi ‘maskot’nya. Sementara jika memang semua rangkaian kisah ini harus kukenang akan kuingat-ingat lagi tanggal persisnya ketika aku makan berdua dengan dia. Hanya berdua. Aku dan dia. Aku harus jujur sebenarnya aku sempat lupa. Karena sebelumnya bagiku tanggal ini tidak berarti apa-apa. Namun aku terhenyak saat aku tahu semua itu ternyata terjadi di tanggal 14 February 2015.

Happy Fucklentine Day.

***

Semua rangkaian di atas adalah hasil dari ingatan yang disunting, kenangan yang diedit, serta memori yang dihapus. Oleh sebab itu apabila ada kesamaan nama, latar dan makanan itu memang disengaja. Dan, jika suatu saat dia yang aku maksud dalam cerita ini tanpa sengaja menemukan tulisan ini. Dia berhak mengganti kata ‘dia’ dalam tulisan ini menjadi kata ‘kamu” dan juga kata ‘kami’ menjadi ‘kita’.

*Sekian secuil kisah remeh temeh dari Bogor Kota Hariwang 🙂

THE SAME AS by One OK Rock

何気ない日々 just the same old thing
何が欠けて足りないか
気づかない wish that the more I can’t run away from myself
I tried to show you I’m strong
Just get all along うまく甘えたい気持ちが
はたくそんな强がりにしか必ず
The shape of love is the same as your heart is
It doesn’t matter who you are
So tell me my heart is the same as yours is

さりげなくもらうその愛情はとてもふかかいで
素直には受け入れられ
何かをまだ閉ざしたまま
No matter how much you say I can’t escape
今何かを変えてことで
この先に広がる何かを変える
The shape of love is the same as your heart is
It doesn’t matter who you are
So tell me my heart is the same as yours is
たとえ儚くとも
悲しい時寂しい時、いつもそばにあるから
And we hold every moment cause that’s what family is for

かけがえのないものを捨てる勇気なんて
僕にはこれこっちを持ち合わせてはないけど
時々なぜか手放して困らせたい時がある
今くれた怖いでのない僕
The shape of love is the same as your heart is
It doesn’t matter who you are
So tell me my heart is the same as yours is
たとえ儚くとも
悲しい時寂しい時、いつもそばにあるから
And we hold every moment cause that’s what family is for

Gone too far for so long
Got to find you’ve been right here all along
(I wanna take you away from here)

この世界中で何があると
僕を愛してくれて
いつでもそっと優しくそっと
見守り続けてる
強くく弱く時に厳しく
暖かな温もり
And we hold every moment cause that’s what family is for
The shape of love is the same as your heart is
Tell me my heart is the same as yours is
Tell me my heart is the same as yours is


‘Kwetiau’ itu sebetulnya tulisan yang dibuat ulang. Saya mulai menulisnya 1.5 tahun yang lalu. Awal saya tulis jumlahnya cuma 800-an kata di versi pertama, 1300-an kata di versi ke dua, dan versi yang terbaru sampe 4000-an kata. Apakah itu menunjukan tulisan saya yang semakin berkembang dari waktu ke waktu, atau malah makin absurd. Hahaha

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, cerpen, Semacam Tulisan, Tak Berkategori and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s