Tak Kan Selamanya

Tidak akan selamanya saya menulis ‘kwetiau’. Tentu saja tidak. Walau pun sampai sekarang saya masih rajin menulisnya, menatahnya, dan menyuntingnya. Saya akan terus menulisnya sampai tulisan itu memenuhi ekspektasi kualitas tulisan yang standarnya saya buat sendiri. Standar kualitasnya tidak harus sebagus penulis-penulis hebat. Cukup dengan kualitas yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Menulis tentang ‘kwetiau’ adalah cara saya untuk mengembangkan kemampuan dalam menulis. Karena satu-satunya cara untuk mengetahui peningkatan kualitas dari tulisan ke tulisan adalah dengan terus menulis. Semakin banyak menulis ―sedikit-banyak― akan meningkatkan kemampuan kita untuk menyusun kata mejadi kalimat, lalu menyusun kalimat menjadi suatu paragraf, dan seterusnya sampai menjadi tulisan yang utuh.

Saya masih akan menulis ‘kwetiau’ sampai saya merasa siap untuk menulis sesuatu hal yang memiliki manfaat bagi orang banyak. Tentu saja saya tidak berpikir selamanya hanya akan menulis untuk dibaca oleh diri sendiri. Saya juga merasa perlu menulis banyak hal tentang urusan lain yang lebih penting untuk dibaca (layak dibaca) banyak orang.

Tapi untuk saat ini menulis tentang cerita pengalaman sendiri masih menjadi pilihan terbaik. Saya belum siap untuk menulis tentang sepakbola, musik, sejarah, bahkan politik. Bukan berarti saya tidak pernah mencoba menuliskan tentang hal yang telah disebutkan itu. Saya pernah mencobanya dan berapa sudah saya posting. Namun semuanya masih berkualitas sangat buruk.

Seringkali saya memiliki ide tulisan yang akhirnya menguap entah ke mana karena tidak pernah coba untuk dituliskan. Belum sempat dikembangkan ide-ide itu keburu lenyap begitu saja. Padahal ketika saya memilih meluangkan waktu untuk menuliskannya, dari ide-ide yang lewat sepintas itu seringkali memunculkan ide-ide lain yang tiba-tiba datang bergantian. Satu picu ide meletup, maka bermunculan ide-ide lain, saling bertaut satu sama lain, berpilin sedemikian rupa.

Celakanya ide yang dituangkan tanpa dibungkus dengan tulisan yang baik hanya akan menghasilkan sampah. Tulisan tersebut tidak akan menarik untuk dibaca. Jangankan untuk dibaca oleh orang banyak, untuk dibaca oleh diri sendiri pun agak malu untuk membacanya.

Oleh sebab itu saya banyak menulis tentang ‘kwetiau’ yang saya tulis dari berbagai sisi dan gaya penulisan. Karena tulisan itu berisi pengalaman pribadi, maka saya sangat menguasai materinya dibandingkan menulis dengan tema yang lain. Saya hanya perlu menyusun kalimat demi kalimat dengan baik agar pesan dari tulisan tersebut dapat tersampaikan. Namun ada kalanya juga saya merasa mentok dengan tulisan tersebut. Ketika kalimat-kalimat yang tersusun terasa terlalu monoton sehingga saya merasa harus memperkaya kosa kata dengan cara lebih banyak membaca buku. Selain itu membaca buku juga tentu dapat menambah wawasan yang suatu saat dapat digunakan sebagai bahan ide-ide dasar saat kembali menulis di lain tema.

Saya merasa dari waktu ke waktu tulisan ‘kwetiau’ itu kian membaik. Meski setiap menulisnya saya harus menerima risiko untuk ketiban baper. Belum lagi jika orang yang ada di cerita tersebut ikut membacanya. Boleh jadi saya akan menjadi bahan tertawaan karena dianggap orang yang susah move on.

Dibalik semua risiko yang akhirnya saya terima tentu saja ada alasan mengapa saya memilih ‘kwetiau’ sebagai pengalaman hidup yang terus ditulis berulang-ulang. Pertama, karena kwetiau itu adalah kisah romansa tentang rasa yang tak tersampaikan maka daripada hal itu berputar sendiri di dalam kepala akan lebih baik jika dituangkan pada sebuah tulisan. Kedua, karena orang dalam kisah tersebut berjarak lumayan jauh dan belum tentu bertemu lagi dengan saya. Maka dengan begitu beban risiko yang saya tanggung akan sedikit berkurang. Ketiga, Jikapun dia membaca (kwetiau) itu akan menjadi berkah tersendiri. Karena bila rasa yang tak tersampaikan itu akhirnya sampai dan berbalas tentu saja itu juga akan menjadi bonus bagi saya haha xD. Dan yang terakhir, paling tidak ada cerita yang terdokumentasikan, syukur-syukur jika suatu saat bisa dibuat menjadi sebuah cerita novel.

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, Semacam Tulisan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s