Fujoshi

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Sudah dua angkot lewat, tapi aku masih memilih duduk di sebuah bangku, di emper sebuah toko kue, untuk berteduh. Lalu seorang gadis, kutebak mungkin usianya 16 tahunan, muncul dengan seragam SMA tertutup sweater yang sedikit basah dibagian pundak dan tudungnya. Lalu dia duduk di sebelahku, satu-satunya tempat yang tersisa.

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Dia menoleh dan tanpa basa-basi langsung bertanya : “Pernah nonton film Batman and Robin versi Jepang, kak?” Aku menatap wajahnya sebentar, lalu menggeleng. “Emh, mau aku setelin? Ada nih di laptop aku. Batre laptop aku cukup buat nonton filmnya sampe abis. Cuma 30 menitan kok,” katanya lagi. Aku menatap wajahnya lagi lalu menggeleng. “Kakak gak tahu, ya, kalau si Joker musuhnya Batman ganteng banget di film itu?” tanyanya lagi. Aku menatap wajahnya sekali lagi, lalu menggeleng.

Ia tampaknya kesal dengan sikapku, tapi aku juga tak kalah sebal. Ia tiba-tiba datang menanyakan sesuatu, bertanya lagi dan lagi, juga menawarkan sesuatu yang aneh: menonton film di emper sebuah toko, saat hujan deras dan jalanan mulai tergenang.

Aku menatap wajahnya sekali lagi, ia tampak merengut. Pupil matanya begitu gelap. Rambutnya lurus, panjang dan juga hitam. Wajahnya sedikit imut, cuma sedikit, sisanya: aneh. Jidatnya agak lebar, poninya seperti kuda dan bertingkah malu-malu seperti Hinata di anime Naruto. Ia masih merengut. Iseng aku bilang: “Kamu kayaknya lahir di hari Cosplay, ya?”

“Hari Cosplay?

“Ya, Cosplay. Kenapa?”

“Memangnya ada hari Cosplay? Hari kan cuma ada tujuh, dan gak ada yang namanya Cosplay, Kak.”

“Hari memang ada tujuh, tapi ada jenis hari lain, ada hari koperasi, hari palang merah, dll. Kenapa harus gak ada Cosplay?”

“Kakak ini aneh banget.”

Aku tertawa geli. Dia lalu menawarkan untuk menceritakan sinopsis film Batman and Robin versi Jepang tadi. Ku pikir tak ada salahnya mendengarkannya, setidaknya itu lebih masuk akal ketimbang nonton film di laptop pada sebuah bangku, di emper toko, di pinggir jalan, saat hujan deras dan jalanan mulai tergenang.

“Ini film udah lama, kakak pasti belum lahir, aku juga belum. Ceritanya tentang Batman dan Robin yang lagi ngejar si Joker di Tokyo. Si Joker sembunyi di markasnya Yakuza. Di film ini si Robin alih-alih bantuin Batman kalahin Joker malah naksir ke anaknya ketua Yakuza yang cantik banget. Satu waktu Robin malah berkhianat ke Batman demi jadi pacar anaknya ketua Yakuza. Si Robin jadi pindah ke kubu si Joker. Itu artinya Si Robin jadi musuhan sama Batman. Lalu si Batman berinisiatif menculik gadis cantik anaknya ketua Yakuza itu. Alhasil si Robin bisa kembali dibujuk buat bantuain Batman lagi. Sedangkan ketua Yakuza yang sayang anak dan juga istri menyerah dan memilih bantuin Batman buat ngalahin si Joker.”

“Film yang aneh,” kataku.

“Aneh apanya? Itu gak aneh, ceritanya biasa, kan? Aku heran kenapa cerita biasa kaya gitu sampai dibuatkan film. Kayak gak ada cerita lain aja,” ujarnya dengan nada sedikit mengomel.

“Ohhh, menurut kamu itu film jelek? Lalu kenapa tadi kamu nawarin aku nonton film itu kalo emang jelek?”

“Aku gak bilang film itu jelek kak, cuma ceritanya biasa aja, gak istimewa.”

“Kalo ada orang yang liat kamu lagi nyanyi lagu Potong Bebek Angsa terus dia pingin jadi pacar kamu gimana ?”

“Mana mungkin orang tiba-tiba pingin jadi pacar aku cuma gara-gara aku nyanyi lagu Potong Bebek Angsa?”

“Siapa tau kamu nyanyinya bagus. Coba aja nyanyi, siapa tahu nanti aku ingin jadi pacar kamu hehe,” kataku. Dia tertawa terbahak-bahak. Dia menyebutku bodoh tapi lucu, atau yang agak mirip-mirip dengan itu, aku tak mendengarnya dengan jelas, karena saat itu persis ada suara petir menggelegar. Dia tampak kaget dan refleks menutup kedua telinganya. Aku tertawa melihat ekspresinya. Dia tampak kesal karena aku tertawakan.

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Lalu, tiba-tiba saja, dia menyanyi. Mulanya aku tak bisa mendengarnya, lalu suaranya makin keras, sampai kemudian aku tahu ia sedang menyanyikan lagu apa. “Nona minta dansa, dansa empat kali….” Ia menyanyi dengan penuh semangat, suara hujan bisa ia taklukkan, suara angkot kelima yang lewat juga bisa ia tundukkan, dan terakhir bahkan suara petir pun bisa ia kalahkan. Ia berteriak-teriak: “Serong ke kiri… serong ke kanan…” Ketika ia sampai pada kalimat “sering ke kanan”, ia menyenggolku dengan pinggulnya. Kami tertawa, ya… tiba-tiba saja tertawa. Lalu ia menyodorkan permen lolipop ke arah mulutku, aku langsung mengemutnya. Kami tertawa lagi sampai kemudian ia bilang: “Jadi, kakak mau jadi pacar aku gak?”

Aku bengong mendengar pertanyaannya. Kupikir dia serius jika menilik wajahnya. Lalu aku tertawa lagi, dan dia juga tertawa lagi. Aku menepuk-nepuk pundaknya. Kukeluarkan sekaleng bir dari tas kecilku. Ia membukanya. Suara desisnya tak terdengar, tapi aku bisa melihat ruap busa bir yang muncul di permukaan kaleng. Ia menenggaknya. Ia sedikit cegukan.

Aku bertanya apakah Joker dalam film Batman and Robin versi Jepang yang diceritakan tadi itu miliki karakter mirip Hisoka seorang badut di serial anime Hunter X Hunter, ia mengangguk. Apakah Joker versi Jepang itu lebih tampan dari Joker yang di Hollywood, tanyaku. Ia mengangguk lalu mengoceh: “Eh, kak, tahu L Berukman? Pemeran Jokernya seganteng dia loh, Aktor yang pernah digosipin maho. Kakak pasti gak tahu kan? Aku kasih tahu, ya. Dia itu digosipin maho gara-gara belum nikah-nikah sampe tua, padahal dia kan ganteng. L Berukman pernah cerita, dulu waktu masih kecil dia pernah sama bapaknya duduk di sebuah halte pas lagi hujan gede, mungkin hujannya persis kaya gini. Nah, bapaknya bilang begini: Kalo kamu bisa terus diem dan gak rewel, kamu bakalan bapak beri permen tiap hari. Itu kejadiannya pas dia sama bapaknya lagi di halte bus, pas lagi hujan gede, kaya kita sekarang ini. Bedanya kita malah di depan toko kue.”

Saat ia mengoceh tentang L Berukman, aku tiba-tiba merasa iba padanya. Aku merasa ia gadis yang tak punya banyak teman. Tapi itu pula yang kurasakan. Untuk pertama kalinya aku berpikir kami bisa menjadi teman.

Hujan deras, jalanan mulai tergenang. Angkot ketujuh lewat. Angkot itu penuh. Angkot itu tak berhenti. “Aku juga punya permen, dan mau aku kasih ke kamu kalo kamu mau cerita lagi tentang film-film Jepang, atau anime juga boleh,” kataku. Ia tersenyum dan bertanya apakah ada banyak permen di tasku. Aku mengangguk. Bagus, katanya, lolipopku sudah habis. Lalu aku memberinya permen yang kuambil dengan tergesa dari tasku. Lalu ia bercerita tentang Ru Paul dan Frank Marino. Setelah itu ia bercerita tentang film-film Lee Jun Ki.

“Hei, kelas berapa sih kamu sekarang?”

“Kelas 3.”

“Kenapa kamu fasih banget bercerita tentang film-film Jepang dan anime-anime yang kaya gitu?”

“Karena aku fujoshi.”

“Hah? Apaan tuh?”

Lalu aku tertawa terbahak-bahak. Aku tak menangkap hubungan antara film-film Jepang dengan kecenderungan seksual, kecuali dalam soal ia memang selalu bercerita tentang aktor ganteng yang terus menjomblo. Tapi aku merasa itu jawaban yang bagus sekali, entah kenapa aku berpikir begitu. Kupikir, pertanyaan dan jawaban tak perlu harus berkaitan, apalagi saat sedang berada di emper toko kue, sore hari, menjelang malam, saat hujan sedang deras dan jalanan mulai tergenang.

“Kita bisa jadi temen, kan, hehe” kataku, mengulangi apa yang sudah kupikirkan beberapa menit sebelumnya. Ia mengangguk sembari menjawab: “Sayang ya kita gak bisa jadi pacar, haha.” Dia tertawa sendiri mendengar ucapannya itu. Aku memberinya permen lagi dan berkata: “Seenggaknya kamu bisa potong bebek angsa buat aku.” Dia mengangguk-angguk, lalu bertanya lagi: “Bukannya bebek sama angsa itu beda? Kenapa judul lagunya Potong Bebek Angsa ya? Harusnya Potong Bebek Kampung atau Potong Angsa Jantan.”

Aku mengangkat bahu, dia kembali mengemut permen yang kuberikan, lalu bercerita tentang film Papa to Kiss in the Dark. Itu adalah serial anime Jepang, kata dia. Ceritanya tentang seorang laki-laki bernama Mira yang tinggal berdua bareng ayahnya. Ayahnya adalah aktor tampan, usianya baru 29 tahun dan Mira baru masuk SMA , ceritanya yah begitulah ada hubungan yang “tanda kutip” diantara mereka, lebih dari sekedar ayah dan anak. Aku mendengarkannya sambil menenggak sekaleng bir saat dia bertanya: “Kak, mau ikut main ke Jepang gak?”

Hujan makin deras, jalanan sudah lama tergenang.

11 Juni 2014


Sebagian cerita hasil sadur yang sudah disunting, diedit, diaduk, sampai miliki makna berbeda, anggap saja tulisan ini hadiah.


Fujoshi (腐女子?, lit. “wanita/gadis busuk”) adalah istilah Jepang yang digunakan untuk mengejek/merendahkan penggemar wanita manga dan novel yang menampilkan hubungan romantis antara laki-laki (yaoi). (sumber: wikipedia)

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in cacatnya harian, cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Fujoshi

  1. Dinda Budi says:

    Kayaknya seru yah jumpa orang yang nggak dikenal pas berteduh dari hujan tapi langsung bisa ngomong akrab gitu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s