Sjahrir dan Maria Dinyalakan Api Idealisme Pergerakan, Meredup Oleh Jarak

Salomon Tas dan Sutan Sjahrir satu aliran dalam pandangan ideologi. Mereka sama-sama berhalauan kiri yang lahir dari keluarga sederhana, terdidik, serta amat antikolonial. Keduanya bertemu saat sama-sama menjadi anggota Social Democratische Studeten Club (Perkumpulan Mahasiswa Sosialis Demokrat).

Tas berdarah Yahudi mungkin tak menyangka istrinya kelak akan menjadi istri sahabatnya sendiri. Semua bermula saat Tas mempersilakan Sjahrir untuk tinggal bersama istrinya; Maria Johanna Duchateau dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil di sebuah apartemen di Amsterdam. Di dalam rumah itu tinggal pula teman perempuan Maria bernama Judith van Wamel.

Tas, Maria, Judith, dan Sjahrir sama-sama menggemari sastra, film bermutu, dan musik. Mereka sering menonton film dan teater di Stadsschouwburg bersama-sama. Perkawanan itu ternyata melahirkan asmara antara Sjahrir dan Maria, istri Tas. Perempuan peranakan Belanda-Perancis ini berpikiran maju dan banyak membantu Tas dalam aktivitas politiknya. Pernikahannya dengan Tas pada saat itu sedang gersang. Tas tidak punya waktu untuk Maria dan anak-anak mereka. Kala itu hidupnya dihabiskan untuk berpolitik.

Tak butuh waktu lama bagi Sjahrir. Celah itu kemudian dimanfaatkan Sjahrir untuk merebut Maria dari Tas. Sebenarnya tidak tepat jika dikatakan merebut karena Tas sebetulnya tahu hubungan antara Maria dan Sjahrir. Bahkan dia sendiri sudah mulai berhubungan dengan Judith.

Sjahrir serius menjalin cintanya dengan Maria. Ketika hendak pulang ke Hindia Belanda pada 1932, ia meminta Maria ikut. Sjahrir bilang ke kekasihnya itu bahwa dia bisa membantu kaum perempuan di bidang pergerakan.

Sjahrir juga sudah berencana akan menikahi Maria di Hindia-Belanda kelak. Sebelumnya Sjahrir akan pulang lebih dulu untuk mengambil alih pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Maria rencananya akan menyusul bersama anak-anaknya empat bulan kemudian setelah proses perceraiannya dengan Tas sudah beres.

Di bulan April Maria dan Sjahrir akhirnya bertemu di Medan. Selanjutnya pada tanggal 10 pada bulan itu keduanya resmi menikah di sebuah masjid. Pada masa itu rupanya Sjahrir tidak menyadari bahwa menikahi perempuan kulit putih bisa dianggap provokasi. Pasangan Sjahrir dan Maria mengundang gunjingan. Apalagi mereka juga sering datang ke tempat-tempat pertunjukan musik, film, dan teater, yang ramai disambangi orang kulit putih.

Maria yang gemar mengenakan kebaya mengundang perhatian orang Belanda. Mereka bertanya, mengapa Maria mengenakan pakaian pribumi. Empat hari setelah pernikahan mereka, Sumatera post, menulis tentang Maria: “Perempuan bersarung kebaya dalam penyelidikan polisi.”

Sebulan kemudian, polisi mulai menyelidiki dokumen pernikahan Maria. Mereka menemukan Maria menikah dengan Solomon Tas, aktivis pergerakan antikolonial. Selain itu, Tas ternyata belum menceraikan Maria secara resmi. Karena Maria menikah secara islam pada saat belum bercerai, hal tersebut membuat para pemuka agama jai ribut.

Lima pekan kemudian pernikahan Sjahrir dengan Maria dibatalkan oleh pemuka agama setempat. Yang membuat Sjahrir pedih, saat itu Maria tengah mengandung anak mereka. Keinginan Sjahrir untuk segera menyusul sang istri ke Belanda ternyata penuh rintangan. Rentetan kejadian tragis kemudian menimpa Sjahrir.

Surat dari Maria sudah lama tidak datang, belakangan datang kabar dari Maria yang menyebut kematian bayi mereka sesaat setelah melahirkan. Setelah itu hubungan Sjahrir dan Maria kembali terjalin melalui surat-surat. Sjahrir meneguhkan niatnya menysul Maria. Apalagi dia sudah mengantongi izin dari Pendidikan Nasional Indonesia untuk kembali bersekolah di Belanda.

Rencananya, ia akan berangkat menumpang kapal uap S.S. Aramis dari Batavia dengan bekal uang kiriman Maria. Celaka, ketika itu Hatta ditangkap. Sedangkan Sjahrir yang bersembunyi di rumah adik tirinya, Radena, ditangkap polisi sehari kemudian.

Meski pertemuan dengan sang kekasih lagi-lagi kandas, hubungan Sjahrir dan Maria kian hangat lewat surat-menyurat. Maria menjadi satu-satunya tempat curahan hati yang memahami kesulitannya.

Dua tahun setelah penahanan Sjahrir, kemudian mereka menikah kembali pada 2 September 1936. Pernikahan jarak jauh itu diwakili oleh pelukis Salim. Sjahrir yang berada di dalam pembuangan di Banda Neira, berangkat ke kantor Gubernur. Sayang, pernikahan jarak jauh menciptakan suasana yang tidak sehat dan penuh ketegangan.

Untuk meredam masalah, Sjahrir meminta Maria menyusulnya ke Banda Neira. Keinginan itu gagal karena Maria tak punya cukup uang.

Akhir 1939, ketika Maria sudah punya uang, tidak ada kapal lagi yang menuju Hindia-Belanda. Perang Dunia II sudah berkobar. Kembali mereka hanya surat-menyurat.

Setelah Indonesia merdeka dan Sjahrir menjadi perdana menteri pertama, tidak ada juga ada kabar baik bagi keduanya. Nyala cinta mereka mulai redup. Sebuah pertemuan di New Delhi, India, pada April 1947 menjadi penentu akhir perjalanan mereka.

Ketika itu Nehru rupanya hendak membikin kejutan bagi Sjahrir. Pikir Nehru, apalah salahnya mengundang Maria, yang masih menjadi istri Sjahrir. Nehru tak tahu kala itu asmara sudah terjalin antara Sjahrir dan asistennya, Poppy.

Pertemuan setelah 15 tahun itu berlangsung dingin. Maria, bersama Nehru dan putrinya, India Gandhi, menyambut Sjahrir yang didampingi Poppy di bandar udara. Tahun 1988, Maria pernah menyebut pada awartawan bahwa Sjahrir sudah jauh berubah. “Mungkin karena ia sudah menjadi negarawan.”

Sjahrir merangkul Maria dan menempelkan pipinya ke pipi Maria. Setahun kemudian, api cinta lama itu benar-benar padam. Keduannya memutuskan bercerai pada 12 Agustus 1948.

Belakangan, Maria menikah dengan adik Sjahrir, Soetan Sjahsyam, yang bersekolah di Belanda. Sejak kembali ke Belanda, Maria tinggal bersama Sjahsyam, yang ikut membesarkan anak-anak Maria dari perkawinannya dengan Tas.

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in Tak Berkategori. Bookmark the permalink.

2 Responses to Sjahrir dan Maria Dinyalakan Api Idealisme Pergerakan, Meredup Oleh Jarak

  1. DYF says:

    Wow, ternyata ada sisi lain dari seorang pahlawan nasional yang tak pernah ditulis di buku-buku pelajaran sejarah.

    Dapat kisah ini dari mana mas?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s