Akhiri Pola

Sudah saya bilang kan, Simulakra Kwetiau akan saya selesaikan tahun ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus bisa mendapat endingnya. Semoga dapat akhir yang bagus.

Prolog, sebagai masa kejadian yang bahkan belum terbaca arah ceritanya. Jujur saya pun terkejut. Tidak pernah sedikitpun terpikir kalau kamu yang waktu itu saya lihat, masih medioker, dan chupu itu justru jadi inti cerita ini.

Bahkan sebelum kejadian pertama sampai akhirnya untuk pertama kalinya saya harus bersilangan ingatan denganmu. Saya tidak pernah yakin di sana akan menjadi cerita kolosal macam ini. Yang saya tahu saya adalah orang terbuang. Karena saya harusnya berangkat ke Yogyakarta bukan ke Bogor.

Tapi, ya tapi cerita pertama bersama mereka juga yang selain kamu bukan cerita remeh temeh. Dari mereka saya mendapatkan banyak hal, dari mulai ilmu, pengalaman, dan cerita pertemanan singkat yang sebaik-baiknya. Salam, buat mereka yang masih tersisa di sana. Yang bikin Bogor suasana Jogja karena bahasa Jawanya yang khas dududu…

Next, sebuah kebetulan saya kembali lagi, kali ini sebetulnya tidak lebih baik dari cerita yang ada di dalam prolog. Ternyata benar sebuah pengulangan fragment tidak akan pernah sama persis dengan yang terjadi pertama kali. Dalam waktu satu tahun saja semua langsung berubah. Entahlah, saya terlalu berambisi mengulang kejadian. Saya lupa memulai, saya hanya berpikir melanjutkan cerita yang nyatanya terputus. Ibarat lagi nonton bola di stadion terus ditinggalin kencing. Nah, ketika sedang di toilet itulah malah terjadi gol. Maka, ketika kembali ke tribun. Pertandingan yang ditonton sudah lain lagi, skor berubah, kedudukan berubah, otomatis suasana pun sudah berubah.

Tapi, bukan bermaksud membandingkan, meski cerita tidak lebih baik dari cerita di dalam prolog dari sudut pandang berbeda sebetulnya ada juga cerita bagus yang layak disimpan di dalam kepala. Saya kembali bertemu dengan orang-orang baru. Kita berkenalan, kita berpetualang, dan saling berbagi cerita yang tak kalah bagusnya.

Dalam cerita pada tahap kedua ini ada satu hal yang justru paling berbahaya. Akhirnya di fase inilah anak haram dari masa silam terlahir. Sebuah kecelakaan dalam berpikir mempertemukan kamu dengan saya dalam satu meja. Sebetulnya biasa saja. Bagi kamu mungkin, kamu sudah melakukannya berkali dengan orang-orang yang entah siapa. Tapi bagi saya hehe.. Meski bisa jadi sama, tapi untuk kali ini saya tidak ingin melupakannya begitu saja. Karena saya sudah terlanjur menulisnya. Ceritanya berkembang sendiri di kepala, terus diingat, untuk mendapatkan cerita di dalam sebuah naskah tulisan yang terbaik. Saya coba pelajari betul mengapa rasa ketertarikan itu muncul. Dari yang tadinya biasa saja menjadi luar biasa. Dari 0 bertambah perlahan sampai 100. Semua dipelajari, kenapa bisa begini dan kenapa bisa begitu? Termasuk dalam berlatih menjaga kesabaran dan memahami kenapa timbul ingin, ingin selalu kamu, kamu dan kamu sebagai candu. Meski kamu, pada kenyataanya sempat asyik dengan yang lain.

Pola, satu setengah tahun kemudian saya kembali untuk ketiga kalinya. Ini bukan atas kehendak saya. Sebelumnya FYI saja, saya sempat hampir benar-benar kembali ke sana sebagai penuai rezeki di tempat yang sama denganmu. Tapi terlambat sehari sebelumnya saya sudah ttd kontrak di tempat lain. Tempat lain itu, adalah tempat yang Minggu lalu kamu kunjungin itu. Di saat yang bersamaan juga saya sedang ‘genba’ mengunjungi sekitaran rumahmu sebagai langkah awal dari rencana menculik kucing.

Setahun kemudian saya memilih pindah, tujuannya bisa kemana saja, tidak harus mendekati kotamu. Kemana saja. Lagi pula hidupmu bukan urusan saya, tentu saja bukan. Kamu bebas melakukan apapun. Begitu juga dengan jalan pikiran tentang kamu di kepala saya ini yang berkembang jadi simulakranya saja. Kamu seakan jadi lebih spesial dibanding diri kamu, mungkin. Karena saya memang tidak tahu betul kenyataanya. Tapi kenyataanya itulah yang ada dibenak saya tentang kamu, yang sangat mungkin bukan kamu. Simulakra heh, simulakra! Kamu boleh baca buku karya Zen R.S. Simulakra Sepakbola jika ingin mengerti apa yang saya maksud. Kamu suka baca buku kan? Kamu juga salah satu budak sajak sepanjang yang saya tahu.

Saya lanjut lagi. Saya memilih pindah. Setelah mencari-cari saya kembali berjodoh dengan kota di mana kamu berada. Sulap? Kebetulan? Jika satu kali sama dengan kejadian, kedua kalinya kebetulan, maka masihkah kamu anggap yang ketiga kalinya kebetulan juga? Boleh jadi ini pola. Boleh jadi ini kehendak. Entah kehendak siapa. Yang pasti saya tidak pernah sengaja untuk datang ke sini. Kembali berada di sekitarmu.

Jika dengan pikiran sok tahu yang saya miliki, saya simpulkan bahwa Tuhan-lah yang berkehendak bagaimana?

Yup, tuhanlah yang maha tahu. Sementara saya, ya, saya, kan cuma sok tahu. Maka dari itu saya ingin mencari tahu. Saya ingin tahu apa terkaanmu, tentang takdir yang sudah ditiupkan ini. Meski nasib, ya, nasib, saya setuju, adalah kesunyian masing-masing. Maka apa pun jawabanmu adalah akhir dari cerita ini.

Wassalam…

Advertisements

About bit_90

Mahasiswa yang Alhamdulillah sudah lulus dan bergelar SST. Saya tidak sedang menulis. Saya sedang berak..
This entry was posted in Tak Berkategori. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s